Mlaku-Mlaku Ning Wonosobo

00:47 Ani Berta 55 Comments


Bukan hoax, saya pernah ke Wonosobo hehehe.
Ada rencana ingin pergi ke Pegunungan Dieng Wonosobo. Itu dulu, semasa kuliah dan hanya wacana hore-hore tanpa eksekusi. Pasti kendalanya niat yang kurang, biaya dan waktu. Ini alasan kuatnya. Tapi betapa senangnya saya bisa menginjakkan kaki di Dieng Wonosobo walau terlaksana belasan tahun kemudian. Yap! Tahun 1998 rencana, tercapai di tahun 2015. Not too bad! Stamina saya masih kuat.
Mengapa tiba-tiba saya bisa ke Wonosobo? Tentu saja karena ada pekerjaan di sana, di sela pekerjaan saya menyempatkan diri melihat sudut-sudut Kota Wonosobo sambil menikmati suasana dan kuliner khas nya. Kali ini, saya tak akan memaparkan sejarah berdirinya Wonosobo dan lain-lainnya. Yang saya mau bagi adalah kesenangan selama di sana.

Di sana saya ditemani Nessa Kartika, partner kerja di LSM yang menugaskan saya sekaligus teman Blogger juga. Gak nyangka saya bakalan ketemu Nessa di pekerjaan yang tak ada hubungannya dengan dunia blogging. Setelah acara meeting dan membereskan pekerjaan, saya diajak ke Dieng dengan menggunakan sepeda motor. Alasannya biar cepat, sebab hari sudah sore dan mau hujan. Kalau pergi besoknya, gak akan sempat. Pasti gak keburu karena harus kerja lagi. Jadilah kami berdua ke Dieng.

Di sepanjang Kota Wonosobo, saya tak menyia-nyiakan untuk berfoto di setiap sudut menarik. Termasuk Pasar Tradisional Wonosobo yang rapi dan Taman kota yang tertata dan rapi dan bersih. Di setiap lampu merah selalu ada voice text otomatis jika lampu merah menyala. Isi pesannya anjuran keselamatan berkendara dan menyeberang jalan yang baik. Unik sekali.

How wonderful you are Nessa!
Pasar Induk Wonosobo
Berhenti dulu di sebuah sungai sambil melihat monyet-monyet bergelantungan

Di sini saya ingin berlama-lama
Kaki Pegunungan Dieng semakin menebal kabutnya

Kabut semakin tebal, kami sudah menuju jalan menanjak dan berkelok. Menurut Nessa, tak jarang terjadi kecelakaan di sana jika kurang mahir berkendara. Jalannya mirip di kawasan puncak tapi ini lebih curam. Jalan sempit sementara di kanan dan kiri adalah jurang tinggi. Saya sempat sport jantung apa lagi gerimis mulai turun.
Dengan jalanan licin Nessa mahir menjalankan motor di jalanan curam. Saya Cuma berdoa dalam hati karena mau pulang lagi pun tak mungkin, sudah jauh dari Kota Wonosobo. Semua kecemasan hilang saat berhenti di sebuah rest area Pegunungan Dieng. Banyak sekali yang istirahat sambil makan jagung bakar dan foto-foto. Kabut tebal sekali, rumah-rumah di bawah pegunungan seperti titik-titik yang diselimuti kabut. Brrrr.... dingin sekali. Di sana ada kampung yang isinya enam puluh persen adalah masjid atau mushala. Makanya disebut Kampung seribu masjid.

Di Gerbang Objek Wisata Tuk Bimo Lukar Dieng Plateau

Sumber mata air Sungai Serayu berasal dari sini

Objek Wisata yang asri
Carica, buah yang hanya tumbuh di Pegunungan Dieng

Tujuan utama kami adalah Komplek Candi Arjuna tapi saya ingin mampir dulu ke Taman Mata Air Serayu. Sumber mata air Sungai Serayu yang dipercaya membawa kesuburan bagi Desa di Wonosobo. Di sana banyak juga pohon Carica. Buah mirip pepaya berukuran kecil yang menjadi ikon Wonosobo. Saya puas-puasin main basah-basahan di sana biar segar dan cuci muka. Monyet-monyet di pinggir hutan bergelantungan di sela gemericik air. It’s really a real nature!

Candi Arjuna dan Candi Srikandi
Di pinggir Komplek Candi bisa menikmati kuliner khas Wonosobo

Komplek Candi Arjuna di sore hari
Ini dia, Bukit Teletubbies
Menikmati kabut di kaki Dieng


Perjalanan dilanjutkan, sampai di Komplek Candi Arjuna hari hampir gelap. Saya tidak mau melewatkan moment berharga untuk foto semua candi yang ada. Landscape yang luas di pinggiran komplek candi disebut bukit teletubbies karena area nya mirip tempat teletubbies di televisi. Saya hanya mengitari sampai Komplek Candi Arjuna saja sebab hari mulai gelap dan tak bisa memotret objek dengan baik karena saya mengandalkan kamera smartphone. Kami mengisi perut dengan kentang goreng, dimakan panas di tengah dinginnya cuaca kaki Gunung Dieng, nikmat sekali. Lalu mencoba minuman Purwaceng. Yang dianggap sebagai minuman stamina di sana.

Kami pulang menyusuri lagi jalan yang curam bersama Nessa, kagum saya dengan teman satu ini, dalam gelapnya malam, gerimis pula mampu melewati curam dan gelapnya jalan. Bravo Nessa!
Menempuh satu jam perjalanan dari Dieng ke Kota Wonosobo, membuat perut kami keroncongan. Pilihan pertama, kami menuju warung nasi Mari-Mari sekaligus Toko Oleh-Oleh Khas Wonosobo. Di sana, kami makan menu Opor Entog, Entog adalah sejenis bebek tetapi lehernya lebih panjang. Rasanya? Hmmm....gurih banget, bumbu opornya sangat nendang, ditambah nasi hangat plus sambal hijau. Minumnya saya memilih teh tawar hangat.

Opor Entog

Lengkap dengan nasi hangat dan sambal hijau
Carica in syrup

Kemasan Carica yang pas buat oleh-oleh

Di sana, saya sekalian membeli oleh-oleh Carica manisan yang terbuat dari buah Carica yang tumbuh subur di pegunungan Dieng. Buahnya mirip pepaya, rasanya pun seperti pepaya. Bedanya ukuran lebih kecil dan bentuknya ada garis-garis seperti belimbing di pinggir buahnya. Manisan Carica segar rasanya dan banyak dibudidayakan sebagai makanan khas Wonosobo. Tak sedikit wisatawan yang mencari manisan buah ini sebagai oleh-oleh. Termasuk saya.

Tak puas dengan menu Opor Entog, kami menyusuri jalan di sekitar alun-alun Wonosobo, kami menghangatkan diri dengan minum Wedang Ronde, minuman jahe, kacang tanah, jelly dan ronde warna warni. Dan rasa penasaran saya dengan Mie Ongklok, makanan khas Wonosobo pun terpuaskan. Saya lebih memilih Mie Ongklok kaki lima dan lesehan.

Mie Ongklok dan sate Ayam
Wedang Ronde

Mie Ongklok bahan-bahannya sederhana tapi istimewa dan dimasak dengan cara istimewa menggunakan anyaman bambu yang disebut Ongklok untuk membantu merebus mie basah sebagai bahan utama. Mie basah, kubis, daun bawang, tahu goreng disiram kuah berbumbu kaldu. Kuahnya kental karena memakai kanji. Lalu dibubuhi kecap manis. Enak disantap panas-panas. Kami makan Mie Ongklok dengan Sate Ayam plus Tempe Kemul. Wih pokoknya tak terdandingi kelezatannya.

Buah Carica menjadi ikon Wonosobo

Setelah puas menjajaki kuliner Wonosobo, saya kembali ke hotel untuk menampung energi pekerjaan besoknya. Tidur dengan nyenyak dengan kesan Wonosobo yang luar biasa.

You Might Also Like

55 comments:

  1. Asyiknya berlibur ke Wonosobo, kemarin juga digelar acara "jambore Desa" di sana, tapi Aku belum bisa ikut hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah sayang sekali, lain kali ke sana aja asyik banget apa lagi kalo ada Festival Dieng

      Delete
  2. carica enak banget itu teh aku suka banget,tapi sayang disini jarang yang jual. Kalau pun ada mahal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya rasanya unik walau mirip pepaya tapi tetep aja beda :)

      Delete
  3. Bbbbrrrr....dingin banget Teh suasana Dieng. Jadi ingat, saya belum menulis tentang Dieng. Sikunirnya baguuus Teh.

    ReplyDelete
  4. Waah rumah baru ya teh.
    Btw beneran curi n libur kmrn sebenernya berencana mau ke sini juga nih. Pingin ke dieng...
    Tp krn lg musim hujan. Kemungkinan dpt view keceh di dieng katanya gamling...akhirnya melipir ke baturraden dan sekitarnya.
    Jadi penasaran...next time harus jadi nih bw anak2 ke sini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba Ophi sebaiknya jika ke sana jangan musim hujan, banyak momen terganggu nantinya termasuk jalanan licin dan curam.
      Belum lagi dinginnya itu menusuk tulang. Harus bawa jaket tebel plus kupluk.

      Delete
  5. pernah makan manisan carica.. seger banget,mie ongklok yang belum pernah,jadi penasaran.

    ReplyDelete
  6. wah asiiik, itu bukit teletubies emang ada teletubies nya ya mba??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha itu perumpamaan aja Mba, soalnya mirip di film Teletubbies kan? :))

      Delete
  7. Saya sudah ke Dieng dua kali dan masih ingin ke sana lagi dan lagi.Liburan minggu kemarin sebenarnya pengin ke Dieng lagi.Si ayah sudah ambil cuti seminggu dan tiba-tiba sakit.Gak jadi deh ke Dieng.Padahal Dieng ngangenin.Apalagi kentang rebusnya dimakan panas-panas.Btw Mbak Nessa top berani ke Dieng bawa motor ya mbak.Padahal kan jalannya ngeri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kapan2 ke sana lagi aja Mba, cocok banget buat istirahat, adem :)
      Iya nih Nessa adrenalin nya tinggi banget.

      Delete
  8. Wonosobo dekat dengan desa kelahiranku mba, jadi kalau mudik sesekali mampir juga ke wonosobo.
    Baru ngeh, ternyata teh Ani, sudah menghuni rumah baru ya, selamat ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh Mba orang Wonosobo? Kirain Orang Bogor asli :D

      Delete
  9. Wah lagi jalan2 tho. Apik pemandangannya dan juga kulinernya.
    Ati2 yo Mbak. Jaga kesehatan juga.
    Salam hangat dari Jombang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak Pakde, ini jalan2nya Bulan Mei lalu, sempat posting sekarang hehehe

      Delete
  10. Bulan November lalu saya gagal ke Dieng nih. Liat tempatnya bagus bgt, seperti liburan berikutnya hrs nyoba mampir dieng nih. Sampe ke pucak tertingginya gak teh? Dingin banget kan ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba di sana luar biasa deh, pemandangan, cuaca sm kulinernya

      Delete
  11. Opor entognya menggoda banget teh apalagi dimakan sama nasi panas yg ngebul.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, saya gak cukup satu lho makannya Mba hahaha

      Delete
  12. waah jelong2 wonosobo iy..
    seruuu,
    ahh..aku mupeng di bukit telelabisnya, pengen gugulitikan teteeh :v

    kalo kulinernya tetep pengen nyeruput wedang ronde

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gogoleran sambil baranggayem nya Teh hahaha
      Kulineran matak bengkak badan di sana Teh euy :D

      Delete
  13. aku udah lama ke sini dan teringat belum satupun yang aku tulis di blog. wakakakakaka

    ReplyDelete
  14. Setuju! Wonosobo itu istimewa. Tahun lalu aku main ke sana 3 hari. Naik ke Gunung Prau, liat bukit Teletubis dari deket, warbiasak banget Teh (*.*)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, luar biasa! Sampai ingin balik lagi ke sana :D

      Delete
  15. Saya pernah ajak anak istri ke Candi Dieng, anak-anak girang foto bareng wayang orangnya.
    Caricanya terlalu manis menurut saya sih hehe
    Ulasan yang runut dan menarik Mbak Ani
    sukses :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Carica terlalu manis tapi kalau disajikan dingin lumayan :D

      Delete
  16. Aha, asiknya yg yalan2 ke Wonosobo. Aku sampe skrg blm pernah mampir kesana teh, paling lewatin aja :)

    Denger Wonosobo lsg inget Carica, soalnya sering banget dibawain oleh2 ini hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah sering dibawain oleh2 sama siapa Mba? :D

      Delete
  17. Wonosobo seruuuu bangeet ya mbaaa....kulinernya okee tuh :)..aku jadi ngenceeees :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba Indah, apa lagi Mie Ongklok susah nyari di Jakarta :D

      Delete
  18. Saya belum pernah ke Dieng. Jadi pengen ke sana :). Kebayang dinginnya

    ReplyDelete
  19. aku belum pernah ke dieng, dan sampe skrg ngebet pake banget, tapi blm ada waktu :(

    ReplyDelete
  20. Dieng itu duingin pisan...
    Pernah beberapa kali ke wonosobo juga hehe

    ReplyDelete
  21. Haduuhhh kangen Dieng dan isinyaaa. Eh, Teh ANi minum purwaceng? Awas jadi "kuat" lho. Hihihihih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha Purwaceng mengandung antioksidan juga kok Nik, baik buat kesehatan tak hanya buat laki2 lho, rugi kalo gak nyoba hahaha

      Delete
  22. wah asik bgt teh..
    pengen juga ke Dieng dan cobain Carica..ssemangatt:))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat Mba, Insya Allah ke sana ya :)

      Delete
  23. Saya belum pernah ke sana. Pingin deh traveling ke sana. :D BTW, sudah follow blognya, ya? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, saya mau follow back blognya tapi gagal terus, nanti saya coba lagi.

      Delete
  24. Dulu ke wonosobo cuma coba mie ongklok. Carica nya nggak ��

    Selalu suka sama wonosobo ��

    ReplyDelete
  25. Pernh ke wonosobo buat rafting duhh jd kangen makan mie godok panas di tengah hawa dingin :)

    ReplyDelete
  26. Jadi kangen dieng, udaranya adeem banget dan pemandangannya indah sangat

    ReplyDelete
  27. Wah, pengen banget ke Dieng, kebetulan tetangga ada yang keluarganya di Dieng tuh. Dia udah nawarin sebuah penginapanyang keren dengan pemandian air hangatnya yang asyik. (katanya) Tapi nunggu si bontot pulang kali baru bisa bikin rencana hehe...

    ReplyDelete
  28. Pengin ke Dieng, tapi sampai sekarang belum terealisasi. Semoga ada yang ngajakin. ;)

    ReplyDelete
  29. wonosobo kota dingin. :D jd pengin ke dieng lg. tahun kemarin ke dieng bareng kluarga, tapi blum kelar2 tulisane. msih ngedraft. :3

    ReplyDelete
  30. Banyak tempat yang belum dikunjungi... Banyak makanan yang belum dicicipi. Ayo ke Wonosobo lagi... Hehe

    ReplyDelete
  31. Kalau lihat foto di Dieng bawaanya pengen kesana, tapi terbentur masalah waktu :D apalagi Wonosobo dengan tempat tinggal ane juga lumayan kira kira bisa 3 - 4 jam perjalanan sepeda motor, harus dalam keadaan fisik yang prima deh kalau kesana. Hehehe

    ReplyDelete