Pages

Tuesday, 6 February 2018

Apresiasi Dari Teman Satu Kelas

Share it Please
Reuni SMP

Notif WhatsApp berbunyi, saat dibuka pengirim pesan adalah Neni, salah satu teman SMP beda kelas namun satu angkatan. Dia salah satu panitia reuni 2015. Walau saat itu sudah diumumkan soal reuni melalui grup SMP, saya tidak antusias mendaftar karena pernah ikut reuni beberapa kali di tahun-tahun sebelumnya. Namun kali ini, Neni khusus menghubungi saya dan meminta hadir di reuni untuk berbagi cerita kesuksesan kepada teman-teman yang hadir.

“Saya? Gak salah Bun?” Saya terperanjat gak yakin karena masih banyak teman-teman SMP saya yang jauh lebih sukses dan mempunyai jabatan tinggi di perusahaannya. Oh ya, saya memanggil Neni dengan sebutan “Bunda” karena ia paling dewasa pemikirannya diantara kami. Dan paling religius.

“Ya, sumuhun atuh masa main-main sih? Jangan suka merendah ah, kamu kan punya kemampuan unik dan saya suka lihat aktivitasmu di facebook.” Ujarnya dengan ikon senyum dan jempol satu.

Akhirnya, saya bersedia ikut karena menghargai undangannya yang sampai japri-japrian begitu. Padahal saya saat itu pekerjaan sedang numpuk.

Dari awal di WA Neni, saya sudah bingung mau berbagi cerita apa yang bisa menginspirasi teman-teman yang hadir? Rumah tangga saya gagal, pekerjaan kantor juga saya tinggalkan, nyaleg di 2014 juga tidak terpilih. Hmmmm saya lahaulahuwatailabillah saja. Teman-teman merasa yakin sama saya. Mengapa saya meragukannya?

Di Hari H, saat ketemu si A, B, C, D dll ada yang menjabat dosen, kepala sekolah, kepala puskesmas, dokter, pemilik production house, konsultan SDM, Abri dan lain-lain. Sempat saya mundur dan bilang ke Neni bahwa saya saya tak usah berbagi cerita di panggung. Namun Neni beserta teman-teman yang lain tetap menyemangati.

Setelah lima perwakilan yang lain berbagi, giliran saya. Jeng...jeng...jeng.... hahaha gile! Depan teman-teman seangkatan grogi abis! Kebiasaan berbicara depan peserta workshop tak ada tanda-tanda saya sering bicara depan umum dengan lancar.

Mengucapkan salam dengan mantap. Lalu saya ingat kata-kata Mas Adjie Silarus, seorang pakar meditasi yang sering mengatakan bahwa ketika kita berbicara sebaiknya harus sadar penuh dan hadir utuh. Agar apa yang disampaikan terlihat bernyawa dan akan melekat di ingatan audience. Saya melupakan sejenak sharing teman-teman saya yang sebelumnya yang membuat saya ciut.

Dengan lantang, saya sportif dan apa adanya bilang bahwa hidup saya tak selurus dan sesempurna teman-teman di sini. Sekarang saya hidup bersama seorang putri kecil dan bekerja menjadi freelancer saya ceritakan juga keseharian saya, kegiatan volunteer, kegiatan mengajar menulis dan soal blogging yang membawa saya pada achievement tinggi serta memenuhi kebutuhan hidup untuk diri sendiri dan anak tanpa tergantung pada orang lain.

Tak disangka, tepuk tangan menggema, lebih riuh dari tepuk tangan untuk teman-teman yang sharing sebelumnya. Saya tak percaya dan merasa berada di nirwana dengan limpahan kasih sayang teman-teman yang melimpah saat itu. Saya bangkit dan merasa bersalah telah menyalahkan dan underestimate diri sendiri. Berbagai pertanyaan juga mereka lempar sambil tertawa riang, berdecak kagum, haru bercampur aduk.

Sampai Dandi, teman sekelas saya yang menjadi MC berujar bangga “Iniiii teman sekelas gue dong” Katanya.

Lalu, Dandi memoderatori para penanya yang tak habis-habisnya. Dia berujar bahwa inspirasi itu bisa luas dan keberhasilan tak diukur dengan jabatan atau status sosial tinggi. Namun, sejauh mana ia bisa bermanfaat untuk orang lain dan banyak melakukan kegiatan sukarela untuk kepentingan orang lain juga keluarga tentunya. Wow! Amazing Dandi!

Dandi juga menambahkan “Ani ini sebenarnya akunting tapi dia memilih jalan menjadi blogger dan penulis lepas jadi pilihannya adalah passion nya.” Huwaaaaa saya berkaca-kaca dan bicara pun jadi serak basah.

Usai reuni, teman-teman memeluk saya. Ada yang menangis haru, ada yang sama-sama single parent lalu ia menjadi tergugah untuk bangkit juga serta berusaha memunculkan kembali potensi dirinya yang sempat terkubur dengan luka dan duka. Ada pula yang menawarkan kerja sama atau sekadar ingin ngobrol lagi di lain waktu. Masyaa Allah saya begitu bahagia saat itu. Namun saya juga tidak lupa diri. Saya tetap menghargai semua teman dan networking sebaik-baiknya.

Beberapa bulan kemudian, Dandi yang berprofesi sebagai konsultan Sumber Daya Manusia atau lebih kerennya adalah HR Consulting, mengajak saya untuk menjadi pembicara dalam seminar soal karir yang diadakan oleh Bank Indonesia, salah satu klien nya.

Tanpa berpikir lama, saya menyanggupi dan saya benar-benar diperlakukan sebagai pembicara profesional bersama pembicara lainnya. Sungguh terharu. Saya saat itu berbagi tentang sisi-sisi entrepreneur dari kegiatan menulis. Terima kasih Dandi dan Diah. Yap, Diah adalah istrinya yang sama-sama mengelola perusahaan yang dibangunnya tersebut.

Kalau lihat plakat ini, saya merasa takjub, mengingat tadinya teman satu kelas, bisa menjadi partner kerja dalam suatu proyek. Tentu jika Bapak Ibu guru yang mengajar kami dulu mengetahui hal ini, pasti akan bangga. Saya terharu!

Hasil kerja saya juga alhamdulillah membuat puas para peserta. Usai seminar, banyak yang meminta kontak dan lain-lain karena mereka ingin belajar lebih lanjut untuk mendalami kepenulisan dan blogging.

Dandi dan Diah pun senang. Alhamdulillah. Dan sepulang dari mengisi seminar ini, saya merasa takjub! Teman sekelas yang tadinya belajar bareng tiap hariu di kelas lalu puluhan tahun tak bertemu, akhirnya dipertemukan dalam masa yang lain yang tak terduga. Ya, reuni itu tak perlu ditakutkan. Tak harus pamer pencapaian atau merasa minder. Yang penting dilakukan saat reuni adalah networking sepenuh hati, bicara apa adanya, tidak mengada-ada, apresiasi setiap orang lain berbagi.

Tak perlu kita merasa rendah atau tinggi. Yang penting adalah kita harus hadir sepenuh hati dan mengambil banyak inspirasi dari mereka yang berhasil serta membantu mereka yang membutuhkan uluran tangan. Saya yakin, semua teman tak ada yang memandang rendah atau tinggi. Kalaupun ada perbedaan untuk saling mengisi karena setiap orang punya peran masing-masing yang tak kalah penting.

Jadi, saya tak pernah takut kalau ada reuni, saya malah jadi ketagihan dan merasa kangen terus sama teman-teman yang sudah lama berpisah.

** Ada cerita dari reuni SMA dan kuliah yang belum saya ceritakan. Ini lain kali saya tuliskan di artikel berbeda.

11 comments:

  1. Noted, mbak.
    Buang jauh-jauh jaim dan minder.
    Kalau tidak siap, kapan siapnya? ��

    ReplyDelete
  2. Teh Ani memang inspiring women, aku salut dengan teh Ani

    ReplyDelete
  3. Terharu banget teeeeh. Kepingin mengganti anggapan miring tentang reuni nih, yang kadang melulu soal perasaan yang belum selesai. Selamat ya teh, sukses juga dan menginspirasi semuanya

    ReplyDelete
  4. Teh Ani ya ampuuuun dirimu memang such incredible lady!
    Keep UP the great work ya teh... BANGGA!

    ReplyDelete
  5. Mbak Ani keren... menginspirasi... Semangat selalu yah :)

    ReplyDelete
  6. Nah itu teh, kadang2 kalo mau reunian banyak yang hadir karena minder.Padahal mah kita mesti bangga, yakin sama diri sendiri ya, karena kita ada dalam reuni ya itu yang diperuntukan buat kita.

    PAstinya, aku pun bangga sama T Ani yang selalu menyebarkan virus blogging dan blogger inspiratif panutan akuu..

    ReplyDelete
  7. Betul sekali, Ani, jangan pernah ragu dan khawatir untuk menjalankan aktivitas yang kita rasa kita belum mampu. Do it and everything will follow. Yakin aja tentunya, apalagi Ani kan memang sangat menginspirasi para blogger tua dan muda. Salut.

    ReplyDelete
  8. Ih, reuninya seru ya teh, penuh makna, berisi banget. Suka deh reuni model gini, gak sia-sia luangin waktu.

    ReplyDelete
  9. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, sabda Rasul. Ini sisi positif dari reuni. Reuni bukan sekadar ajang pamer harta dll. Semangat terus, Ani.

    ReplyDelete
  10. Subhanallah. Speechless jadinya.
    .
    Ya, apapun kita saat ini, teruslah berkarya ^_^

    ReplyDelete

Blogroll

About