Pages

Thursday, 1 February 2018

Mengenal AFR dan Bio-Drying di Indocement Citeureup

Share it Please

Siapa yang tak mengenal semen? Bahan yang bisa membuat kokoh bangunan, jalan, benteng dan lain-lain. Tak dipungkiri, peran semen selalu menjadi andalan dalam penyediaan bahan baku sebuah bangunan atau bentuk lainnya.

Mengunjungi langsung pabriknya adalah suatu privilege tersendiri buat saya, mengingat kesempatan datang ke sini tak semua orang bisa mendapatkannya. Pada 24 Januari 2018 adalah kunjungan kedua kalinya setelah kunjungan pertama tahun lalu sambil mengunjungi desa binaan Indocement untuk kegiatan CSR nya. Yakni, proram sekolah magang Indocement serta Gemari

Saya dan teman-teman blogger diajak melihat secara langsung bagaimana semen diproduksi di area Plant 14, Kompleks Pabrik Citeureup yang merupakan Plant terbaru Indocement yang diresmikan pada Oktober 2016.

Kami jadi tahu area produksi seperti raw mill atau penggilingan, kiln dan suspension preheater. Saya juga takjub dengan kemegahan bangunan tiga buah silo (tabung raksasa) yang menjadi tempat penampung semen yang sudah jadi dan siap di-packing lalu didistribusikan.

Menarik sekali berkunjung ke suspension preheater yang sangat tinggi, ketinggiannya mencapai 158 meter. Jika menggunakan tangga manual, harus mampu melewati 1.444 anak tangga. Dalam kondisi normal, bisa sampai ke puncak suspension preheater dalam waktu 20 menit.

Dari puncak suspension preheater selain melihat proses produksi semen juga bisa melihat dan menikmati pemandangan Citeureup secara luas. Kami pun tak menyia-nyiakan waktu untuk mengabadikannya sambil menikmati angin segar plus pemandangan yang menghampar. Rasa nasionalisme saya memuncak. Bangga dengan karya bangsa ini. Ya, saya sedang berada di wilayah salah satu objek vital nasional!

Bapak Wirya Santika, Manager Plant 14 mengatakan bahwa produksi yang dihasilkan untuk Plant 14 saja mencapai 11.500 ton per hari. Produktivitas tinggi ini tentunya berkat efisiensi tenaga kerja yang didukung teknologi canggih. Misalnya, kinerja mesin di pabrik diawasi semua di control room serta memiliki laboratorium quality control dengan teknologi robotik termodern. Tak semua orang bisa masuk ke control room karena jika salah pencet satu tombol saja, bisa fatal akibatnya.

Pengantongan semen dan pusat dispatch terbesar di dunia dengan 5 lini fasilitas otomatis penuh, dengan kapasitas 9.000 palet per hari dan 360.000 kantong per hari.

Ban bekas, salah satu limbah B3 yang digunakan untuk AFR
Oli bekas juga digunakan untuk bahan AFR

Alternative Fuel and Raw Material

Untuk mengoperasikan kegiatan operasional pabrik, Indocement concern pada prinsip ramah lingkungan. Termasuk dalam penggunaan bahan bakar. Penggunaan bahan bakar alternatif meminimalisasi ketergantungan pada bahan yang berasal dari energi tak tergantikan, seperti batu bara.

Bahan bakar yang digunakan Indocement 15% nya adalah alternative fuel, limbah yang digunakan berasal dari limbah indocement atau dari pihak ketiga dan desa mitra. Indocement memiliki izin untuk mengolah limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)  sebagai bahan bakar alternatif.

Kami memasuki area pengelolaan AFR namun tak diperbolehkan turun dengan alasan keamanan walau sudah pakai masker dan perlengkapan lainnya.

Terlihat kumpulan bahan-bahan baku alternatif yang akan dibuat bahan bakar yang terdiri dari Limbah B3 dan Non-B3.

Bahan baku yang terlihat, untuk kelompok Limbah Non-B3 adalah, sekam padi, serbuk gergaji, kertas dan karton bekas, ban bekas dan refused derived fuel (RDF). RDF ini adalah sampah rumah tangga hasil proses Bio-Drying.

Sedangkan Limbah B3 adalah sludge oil, plastik terkontaminasi, cat bekas dan limbah tekstil terkontaminasi.

Tak menyangka, bahwa bahan-bahan tersebut bisa diolah menjadi bahan bakar alternatif yang dapat mengurangi CO2 pada lingkungan.


Proses Bio-drying

Bio-Drying

Setelah melihat lokasi AFR, kami menuju tempat pengelolaan sampah dengan Bio-Drying masih di sekitar lingkungan Indocement. Bio-Drying juga merupakan alternatif bahan bakar yang berasal dari sampah rumah tangga. Bio-Drying Indocement ini merupakan proyek percontohan pengelolaan sampah rumah tangga bagi siapapun yang ingin mendalaminya.

Proses yang dilakukan melalui metode co-processing dengan pengeringan dan fermentasi mikroorganisme (decomposable) dengan dekomposisi mikroorganisme dalam kondisi ketersediaan oksigen yang cukup selama 21 hari proses.

Alat yang digunakan adalah Membran Cover Khusus yang dapat meloloskan uap air hasil pengeringan. Uap air akan mengalir melalui pipa yang disediakan menuju penampung. Hasil pengerjaan Bio-Drying adalah menghasilkan Refused Derived Fuel (RDF) yang akan dipergunakan sebagai bahan bakar alternatif setelah diolah.

Satu kali proses Bio-Drying dapat menghasilkan 110 ton RDF.

Bio-Drying sangat membantu mengurangi pencemaran udara karena bau sampah dan timbulnya lalat-lalat yang mengantarkan penyakit. Cara mudah ini bisa dilakukan oleh siapapun. Mas Angga yang mendampingi kami menjelaskan bahwa percontohan ini dapat menjadi inspirasi bagi siapapun yang ingin mengolah sampahnya menjadi bernilai.

AFR maupun Bio-Drying output nya tetap melalui uji coba dan proses quality control agar bahan bakar terjaga kualitasnya dan dapat memberikan hasil produksi yang prima untuk proses produksi dengan penggunaan bahan bakar ini. 

Jujur, saya beruntung mendapat informasi soal AFR dan Bio-Drying, tadinya saya hanya tahu pengelolaan sampah organik saja. Inovasi Indocement tak hanya fokus terhadap produksi barang dan profit perusahaan, tapi lebih luas dari itu. Kepedulian terhadap lingkungan dan pemberdayaan masyarakat yang patut dicontoh oleh perusahaan-perusahaan lain.

Perusahaan penghasil brand semen Tiga Roda ini terus berkomitmen mengembangkan inovasinya baik secara produksi, program CSR dan Sustainability terhadap kelestarian lingkungan.



Selalu ada inspirasi dalam setiap perjalanan. Inspirasi yang patut ditularkan pada siapapun untuk kepentingan bersama dan bermanfaat untuk sesama. Semoga inovasi-inovasi Indocement yang melahirkan banyak inspirasi terus meningkat seiring kemajuan yang telah diraihnya.


3 comments:

  1. Teeeh, naik ke atasnya itu manual? Ya ampun, aku ngebayanginnya kog deg-degan, hahaha. Naiknya aja butuh 20 menit ya, ckckck.

    Soal pengelolaan limbah dan sampah, memang semestinya semua perusahaan memikirkan hal ini ya, supaya lingkungan tetap terjaga, jadi ga merugikan masyarakat dan lingkungan

    ReplyDelete
  2. kemarin lihat igs dari temen2 yang kunjungan ke pabrik ini.. seru nih pengalamannya

    ReplyDelete
  3. Aku selalu suka jika satu perusahaan mengelola limbahnya maksimal seperti ini, jadi mereka peduli lingkungan

    ReplyDelete

Blogroll

About