Pages

Monday, 5 February 2018

Sejuta Hikmah Saat Mengelola Amarah

Share it Please
Foto: Pixabay
Kalau soal marah, saya sering. Untung gak hipertensi. Marah bisa terjadi jika pemicu kemarahan itu sangat ekstrim alias sudah di luar batas toleransi. Walau kebanyakan orang bilang saya ini tegas (bahasa halusnya galak dari mereka sebagai julukan untuk saya) namun saya sebenarnya sangat pemaaf dan cepat lupa dengan kesalahan-kesalahan yang diperbuat orang lain terhadap saya.

Bahkan sering saya jatuh iba dan menolong orang yang pernah mendzolimi saya lahir batin (maaf tak bermaksud riya, hanya contoh kasus) sambil tak mengingat bahwa ia telah menorehkan luka hingga membuat saya menangis dan perih hati.

Apa sih memangnya keuntungan dari marah-marah? Yang ada hanya capek hati juga bikin mata sembab. Belum lagi suasana yang kacau. Kadang-kadang orang tak bersalah menjadi pelampiasan.

Karena saya pernah ada di posisi puncak kemarahan yang menguras sekali energi, pikiran dan menjatuhkan mental, maka di titik itu pula saya merasa harus bertanya pada diri sendiri. Sejenak saya melipir dari keramaian yang biasanya jadi pemicu atau “kompor” yang memanfaatkan situasi.

Hal ini mulai saya lakukan di 2013. Dan ini tips saya dalam mengatasi kemarahan tak berujung itu;

Menghindar sejenak, Sebaiknya menghindar dulu dari hal-hal yang menyebabkan kemarahan. Misalnya, orang, organisasi, perkumpulan atau apa saja. Dengan menghindar, kita akan melalui proses introspeksi diri, evaluasi diri, menelaah masalah lebih dalam dan berpikir logis mengikuti kata hati. Tidak terpengaruh oleh orang lain yang biasanya memberi bumbu atau sengaja menambah sesuatu yang membuat kita tambah marah.

Ajak pendengar yang baik, Menyepi jangan terlalu sendiri. Bahaya. Sebaiknya ajak orang yang bisa dipercaya atau bisa menjadi pendengar yang baik. Orang yang netral dan punya sikap objektif. Sehingga tidak akan memihak ke mana-mana. Kalau sampai memihak kita sendiri pun itu tidak baik, malah menjadikan kita tidak menghadapi realita dan permasalahan tidak kunjung selesai.

Jika tak ada orang yang bisa diajak bicara atau menjadi pendengar yang baik, ambil buku diary. Jangan sepelekan buku diary. Karena buku ini bisa mengurangi banyak tumpukan beban yang ada di hati dan pikiran. Dengan meluapkan segala rasa dan umpatan-umpatan di sana sedikitnya bikin hati plong walau belum seutuhnya menyelesaikan masalah. Setidaknya buncahan limbah perasaan itu sudah berkurang.

Introspeksi diri, Biasanya, setelah curahan hati didengarkan orang lain atau setelah dituliskan, hati mulai lega dan pikiran jernih kembali. Seduh dulu kopi atau teh, lalu ambil buku dan pulpen. List, apa yang membuat kita marah itu? Lalu tanyakan pada diri sendiri. Mengapa bisa marah?

Jawab dengan jujur, tidak gengsi atau jaim. Karena yang tahu hanya Allah dan diri sendiri. Biasanya didapatkan jawaban “Memang saya berhak ya marah atas itu?” “Kok saya begitu sih, malu-maluin.” atau “Duh saya harus segera minta maaf atau memperbaiki keadaan” Dan lain-lain. Kalaupun kemarahan itu dianggap wajar, kita juga bisa melihat sisi pemicu kemarahan itu mengapa bisa terjadi? Jika diuraikan pasti ketemu jawabannya.

Evaluasi diri, Saat evaluasi diri biasanya ketemu titik solusi. Karena di posisi ini kita menjadi menelaah segala masalah secara dalam. Ya, mengapa secara dalam? Karena kita benar-benar cari jawaban atas kemarahan yang kita perbuat itu.

Misalnya, saat saya diajak meeting oleh sebuah perusahaan atau agency untuk brainstorming dan rencana kerja sama. Namun di saat saya sudah kasih ide habis-habisan hingga memberi tahu strategi dalam presentasi bahkan sampai memberi data. Ternyata yang diajak kerja sama adalah pihak lain dan konsep saya yang dipakai. Nah, siapa yang gak marah? Kalau sampai ada yang gak marah di posisi saya ini, acung jempol deh, anda begitu mulia hehe.

Awalnya, saya kecewa, perih dan nangis dong. Tapi ya itu tadi, saya pakai solusi yang saya tulis di atas. Dan dari kejadian itu, saya jadi menelaah bahwa perusahaan bonafid pun tak menjamin bisa bersikap profesional. Saya juga jadi merasa bangga konsep saya dipakai walau diri sayanya gak dianggap. Intinya, ambil sejuta hikmah.

Ambil Hikmahnya, Tak ada yang sia-sia, ketika saya tetap berkepala dingin dan tidak memviralkan perusahaan maupun individu pemicu kemarahan tersebut, akhirnya saya mendapatkan banyak hikmah. Saya jadi lebih berhati-hati, jadi punya strategi dalam presentasi dengan orang atau perusahaan yang mengajak kerja sama, tidak silau dengan perusahaan bonafid karena belum tentu mereka profesional. Sebagian ada yang kurang dewasa.

Hikmah lainnya adalah saya tak kekurangan rezeki walau konsep, lahan atau pekerjaan saya kadang disalip orang lain juga. Saya jadi percaya Allah Maha Tahu. Dan ketika kita membuat sesuatu yang terbaik, beneran yang terbaik pun akhirnya mengikuti.


Maka, ketika kecewa, marah dan dendam kesumat, ayolah bermanai dulu dengan diri sendiri, jika sudah damai dengan diri sendiri, hati dan pikiran akan logis dan jernih.

15 comments:

  1. Yups, ini pelajaran tingkat tinggi teh, karena enggak gampang mengelola amarah. Buktinya amarah tak kenal usia ya.
    Aku sekarang memilih mengisi batin dengan humor, dengan harapan meminimalkan amarah

    ReplyDelete
  2. "menolong" orang yang pernah menyakiti itu sesuatu banget

    ReplyDelete
  3. Bener, Mbak.. Menyendiri itu perlu banget waktu mood lagi ngga asik..

    ReplyDelete
  4. Yah..i feel u teh, pernah ngerasain dizhalimi.
    Ahh, obatnya ya menyendiri dalam keheningan dan berdamai dengan diri sendiri ajah.

    ReplyDelete
  5. Setuju banget teh... Marah cuma bikin kita capek sendiri... Dari pada marah mending makan saja nyok...

    ReplyDelete
  6. Mengambil hikmah itu memang tidak mudah tetapi jika sudah terbiasa, nikmatnya Masyaa Allah...

    ReplyDelete
  7. Banyak ruginya teh dengan menunjukan kemarahan, untung enggak malah jadi menjadi menyakiti diri sendiri.

    ReplyDelete
  8. tips nya ngena banget teh. Bener banget soal "kompor", bukan meredakan emosi jadi bikin pembenaran soal emosi yang salah tersebut. Hehee

    ReplyDelete
  9. Menyendiri dalam keheningan, salah satu cara memang untuk kita mengetahui dan meredam amarah. Thank you teh... selalu menebar inspirasi ^^

    ReplyDelete
  10. kepala dingin dan hati seluas samudra dahhh pokoknya ya teh...

    ReplyDelete
  11. introspeksi diri terkadang sering saya lupakan Teh saat sudah emosi, padahal itu penting banget ya untuk menganalisa saat kepala sudah dingin.

    ReplyDelete
  12. menghindar itu kayak pecundang, tapi buat aku menghindar itu lebih baik

    akupun pernah berseteru sama seseorang yang dulu dekat banget kayak keluarga, difitnah sana sini, aku diam, lebih banyak menghindar, eh dibilang pecundang

    tapi kalau ngelawan, sudah pasti aku bakalan marah dan yang ada masalah tambah runyam

    ReplyDelete
  13. Sayapun termasuk orang yang mudah marah, mba. Tapi suami selalu menjadi pendengar yang baik. Memang meski butuh waktu sendiri kita butuh seseorang yang bisa dijadikan tempat curhat.

    ReplyDelete
  14. Ani koq mirip-mirip bunda ya sifatnya, hehe...#nyama-nyamain. Itu lho kita itu sama dalam satu hal yaitu mudah melupakan kesalahan orang yang telah, katakankanlah, menyakiti hati ita.
    Betul sekali, tak ada gunanya sebenarnya amarah itu kita expose...karena akan menyita energy. Nice posting.

    ReplyDelete
  15. Teh Ani makasih tips nya ya, semoga sehat selalu :-)

    ReplyDelete

Blogroll

About