Saturday, 26 November 2016

Wayang in The City

Share it Please

Wayang, seni budaya Indonesia yang tercatat di The World of Heritage UNESCO. Indonesia pun menjadi Ketua Paguyuban Wayang Asia Tenggara. Patut bangga dan setiap ke luar negeri kita orang Indonesia tak akan pernah kehabisan bahan untuk menceritakan budaya negeri ini. Karena dari wayang pun, banyak jenisnya.

Ada Wayang Kulit, Wayang Golek, Wayang Orang dan baru-baru ini ada Wayang Listrik. Saya pun baru tahu tentang Wayang Listrik setelah menghadiri acara Wayang for Student di Museum Nasional (24/11) yang merupakan salah satu program Bakti BCA untuk mengedukasi generasi muda agar mengenal wayang dan ikut melestarikannya.

Era digital semakin menggerus minat generasi muda terhadap budaya negeri sendiri, arus informasi dan hiburan yang melenakan semakin digemari kawula muda masa kini. Lupa dengan budaya sendiri yang sebenarnya lebih bermakna dan menarik untuk dinikmati.

Saya jadi ingat masa kecil saya, sering mendengar cerita Wayang Golek dari kaset yang diputar di radio tape. Karena keluarga saya gemar mendengarkan dongeng dan cerita wayang di rumah. Daya imajinasi saya jadi tinggi, membayangkan tokoh-tokoh yang berdialog seru seperti Si Cepot, Dawala, Si Gareng, Semar serta lain-lainnya. Masa itu memang masih belum sederas sekarang hiburan melalui televisi atau gadget tapi saya cukup menikmati cerita wayang di radio tape tersebut sambil berkumpul dengan keluarga.

Tak hanya itu, moment begadang bersama keluarga besar dan tetangga saat hajatan saudara atau tetangga yang menanggap wayang semalam suntuk pun menjadi hal menyenangkan buat kami saat itu. Sekarang banyak yang tertarik menanggap organ tunggal dibanding wayang.

Maka, inisiatif PT. Bank Central Asia Tbk dalam menggelar Wayang in The City mengangkat Wayang for Student ini sangat pas. Bisa langsung menyasar ke anak-anak muda untuk memperkenalkannya. Event ini dihadiri 600 pelajar dari 6 SMP dan 6 SMU dari Jakarta dan sekitarnya. Kegiatan mereka selain menyaksikan talkshow terkait wayang, ada aktivitas belajar Tari Kecak, mengenal tokoh-tokoh wayang dan mengikuti kompetisi Vlog berdurasi satu menit terkait wayang.

Para Pelajar belajar Tari Kecak


Sambutan Suwignyo Budiman, Direktur PT Bank Central Asia, Tbk

Direktur BCA, Suwignyo Budiman mengatakan bahwa generasi muda adalah pewaris budaya bangsa yang diyakini dapat melestarikan pewayangan Indonesia melalui karya dan menikmati pagelarannya. Oleh karena itu, generasi muda wajib didorong untuk merasa memiliki dan bangga terhadap budayanya sendiri.

Wayang perlu dilestarikan, bahkan dimasukan dalam kurikulum sekolah karena budaya ini mengandung filosofi dan estetika. Menjadi dalang, merupakan aktivitas multiperan karena dalang bisa menjadi sutradara sekaligus pemain. Ini sangat melatih koordinasi. Dan menuntuk serba bisa sehingga bisa belajar segala hal.

Selain itu, wayang tak sekadar media hiburan, wayang juga berfungsi sebagai media penyampai dakwah, transfer ilmu pengetahuan dan penyampai pesan. Tokoh-tokoh wayang pun bisa dipelajari lebih dalam karena beberapa tokoh punya karakter cerdas, misalnya Gareng, walaupun mukanya kurang menarik tapi punya filosofi kehidupan yang kuat, Semar yang bijaksana dalam setiap tutur kata dan keputusan-keputusannya serta Abimanyu seorang pemimpin cerdas dan beraani. Tak hanya itu, tokoh wayang Gatot Kaca pun menjadi simbol kepahlawanan Indonesia yang berani membela kebenaran.

Pertunjukan Wayang Listrik

I Made Sidia dari Bali mengungkapkan bahwa pagelaran wayang agar disukai oleh generasi masa kini, harus ada inovasi yang menyesuaikan. Misalnya, dalam penuturan bahasa tidak terlalu baku, pakai bahasa gaul tidak masalah asal tidak berlebihan dan tidak mengaburkan makna. Selain itu, bisa ditambahkan tokoh lain yang familiar di telingan generasi muda. Misalnya Gatot Kaca melawan Power Rangers atau The Hulk. Jadi lebih seru dan masuk di era generasi sekarang.

Wayang Listrik yang dipopulerkan I Made Sidia, disambut baik sampai dunia. Bahkan dinobatkan sebagai The Best Performance dalam sebuah pagelaran tingkat internasional yang diselenggarakan UNESCO dan pernah menampilkan karyanya di Opera House Australia.

Sangat menarik. Saya beruntung menyaksikan pertunjukan Wayang Listrik di acara Wayang in The City ini. Wayang Listrik dimainkan sama seperti jenis wayang lainnya, tak mengubah teknik dan filosofi dasarnya. Hanya, Wayang Listrik sebagian besar menggunakan alat moderen.

Layar untuk pertunjukan Wayang listrik tetap putih dan lebih lebar, di belakang layar ada panggung khusus buat dalang. Dalang yang memainkan pertunjukan Wayang Listrik biasanya 7 orang dan bergantian memainkan macam-macam tokoh. Para Dalang bergantian memainkan sesuai skenario dengan bantuan alat gerak skateboard agar bisa leluasa bergerak dengan luwes. Permainan musik dan bahasa pun disesuaikan sehingga penonton asyik menontonnya dan wisatawan mancanegara bisa menikmati alur cerita dengan baik.

Teknologi Wayang Listrik yang atraktif dan hidup membuat saya terpukau dan menonton hingga cerita selesai. Rasanya ingin sekali menontos satu episode lagi. Saya yakin pertunjukan Wayang Listrik bisa menjadi jalan untuk kawulan muda mencintai dan melestarikan wayang bahkan menikmatinya.

Semoga langkah yang dilakukan BCA ini dapat menginspirasi perusahaan atau organisasi lainnya untuk mengedukasi dan menyelenggarakan kegiatan serupa yang dikemas menarik agar wayang digemari generasi muda.

11 comments:

  1. Saran ya, Teh Ani, pasangin video pertunjukan Wayang Listrik-nya ya. Sebab saya bingung apa bedanya Wayang Listrik dengan show wayang biasanya. Apakah mereka pakai lampu? Atau ada hal lain yang membuatnya istimewa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku gagal melulu unggah video, nanti dicoba lagi ya :)

      Delete
  2. Wah seru lombanya, bikin kita lebih peduli pada wayang dan budaya Indonesia lainnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya harusnya lebih digalakkan lagi ya :D

      Delete
  3. Inovasinya kreatif, saya sendiri bujan penikmat wayang. Tapi ikutan senang sanang ketika wayang dilestarikan.

    Bahkan ada bos dikantor yg pernah sekolah pewayangan menceritakan pengalamannya waktu itu dan sempat menyaksikan beliau menjadi dalang sebuah keseruan tersendiri

    ReplyDelete
  4. sebagai pencinta wayang, acara ini bener2 luar biasa bagi saya :)
    salut sama BCA yang sukses mengenalkan kebudayaan negeri ini kepada 600 pelajar di Jabodetabek...
    apalagi, dengan menyelenggarakan wayang listrik yang merupakan inovasi terbaru karya anak bangsa

    ReplyDelete
  5. keren ini inovasinya. Semoga semakin banyak anak muda yang mencintai wayang :)

    ReplyDelete
  6. Wah saya juga baru tau wayang listrik dari tulisan Teh Ani ini. Inovatif. Semoga generasi muda terus menelurkan karya-karya positif.

    ReplyDelete
  7. Kemarin aku nonton wayang orang di solo, keren tapi agak membosan kan, mesti di ubah sedikit lebih modern dan kekinian jad mix gitu

    ReplyDelete
  8. Aku suka kesenian tradisional sejak kecil, lebih banyak baca komiknya, sesekali nonton pentas panggungnya juga.
    salut juga ada yang menginisiasi edukasi generasi muda mengenal wayang

    ReplyDelete
  9. Bagus tuh acaranya.
    Mengenalkan sekaligus melestarikan budaya Indonesia.

    ReplyDelete

Blogroll

About