Pages

Sunday, 19 March 2017

RUU Pertembakauan Ancam Generasi Penerus

Share it Please
Perjalanan RUU Pertembakauan yang sudah menjadi pembahasan sejak 2006, bahkan di DPR sendiri belum ada putusan pasti. Membuat kekhawatiran semakin membumbung. Bagaimana tidak? Jika RUU Pertembakauan benar-benar disahkan, akan menjadi ancaman besar untuk bangsa Indonesia.

Bukan sekadar opini sepihak. Jika benar-benar mencermati akibat ke depannya. Banyak yang mempertanyakan, jika RUU Pertembakauan disahkan, apa penyebab kerugiannya dan dari sisi mana? Saya tuliskan di sini sebagai rangkuman jawaban untuk sebagian Followers Twitter saya yang mempertanyakan dengan nada sinis terhadap hashtag #TolakRUUP.

Berdampak Buruk Untuk Kesehatan

Sudah pasti, perokok aktif dan pasif yang mengisap asap rokok, paru-paru dan jantung akan mengalami gangguan dan berbagai penyakit lainnya bisa menjalar juga ke area bagian tubuh lainnya. Paru-paru adalah alat pernapasan, jadiini sangat penting untuk keberlangsungan hidup manusia. Kalau sampai paru-paru rusak, mau bernapas pakai apa? Itu logika sederhananya.

Sumber: Twitter @KomnasPT

Rokok juga mengandung berbagai senyawa yang mengakibatkan euforia ketenangan sesaat yang berujung candu.

Akibat penyakit tidk menular yang disebabkan rokok ini, menurut data Kementerian Kesehatan, bisa menghabiskan 30% dari total anggaran BPJS Kesehatan. Ini salah satu sumber defisit negara.

Mengancam Generasi Penerus

Saat harga rokok dinaikkan, produksi dibatasi dan pemasaran tidak vulgar, rokok masih banyak diminati dan dicari anak muda. Dengan dalih “kekinian” atau takut di-bully teman karena tak mau diajak merokok, anak muda yang labil akan mudah terpengaruh. Setelah mencoba, kecanduan dan menjadi jalan ke pemakaian narkoba.

Generasi penerus yang mengonsumsi rokok, produktivitas dan daya berpikirnya akan berkurang. Generasi penerus yang akan membangun Indonesia di masa datang, yang kualitas kesehatan dan daya pikirnya terganggu karena rokok, tidak akan memberi dampak kemajuan. Sekalipun Bonus Demografi yang dimiliki berpotensi besar. Karena justru Bonus Demografi itu menjadi masalah. Mulai dari kurangnya pendidikan, kesehatan dan pola pikir.

Tidak Menguntungkan Petani Tembakau

Siapa bilang RUU Pertembakauan memihak petani? Nyatanya, para petani tembakau merupakan penerima benefit paling sedikit dari rantai industri rokok. 
Petani tembakau kurang diperhatikan pemberdayaan SDM nya, mulai dari pelatihan, penyuluhan, pemberian bibit unggul tembakau dan penyesuaian tembakau yang cocok digunakan. Karena tembakau Indonesia termasuk yang tumbuh di iklim curah hujan tinggi dan mengandung kelembapan tinggi. Jadi, potensi ketidakcocokan menjadi produk rokok yang umum dijual, akan terjadi. Lalu perusahaan impor tembakau dari luar negeri.

Sumber: Twitter @KomnasPT

Seperti dinyakatan Ade Irawan dari Indonesia Corruption Watch (ICW) pada prescon (6/3) di Menteng Jakarta, menurutnya, RUU Pertembakauan ini punya potensi konflik kepentingan yang besar dan tidak yakin bisa membela petani.

Sedangkan menurut Ekonom Faisal Basri, RUU Pertembakauan hanya menguntungkan industri rokok karena akan membuka celah impor mesin linting rokok dan buruh linting rokok di Indonesia akan kehilangan pekerjaan.

Petani pun tidak mempunyai hak menentukan harga pasar jadi semua tergantung perusahaan. Sehingga hasil jerih payahnya kurang mendapatkan hasil sepadan dengan effort yang telah dilakukannya.

Penyesuaian Undang Undang Tembakau 

Menurut Ekonom Faisal Basri, kekhawatiran perubahan UU tentang tembakau akan disesuaikan jika RUU Pertembakauan disahkan. Penyesuaian-penyesuaian ini akan memberikan keleluasaan industri rokok untuk memproduksi rokok tanpa batasan yang terukur.

Ki-ka: Hasbullah Thabrany (Guru Besar UI), Julius Ibrani (Koordinator YLBHI) dan Faisal Basri (Ekonom)

Ditambahkan pernyataan Hasbullah Thabrany, Guru Besar dari Universitas Indonesia yang menagih janji Presiden dalam Nawacita ke lima yang menargetkan seluruh daerah ada Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan menaikkan cukai rokok hingga 200%. Jika target ini tercapai, generasi muda dan usia produktif di Indonesia tidak terancam penyakit dan penruran produktivitas sumber daya manusia. Jika RUU Pertembakauan disetujui, tentu saja ini merupakan pelanggaran nawacita ke lima tersebut.

Industri seni dan kegiatan-kegiatan yang sering melibatkan anak muda sebaiknya tidak disponsori rokok dan tidak ada logo-logo yang menyertainya. Disamping itu, iklan-iklan rokok pun harus dibuat soft dan tidak mengundang penasaran untuk mencoba.

Jadi, masalah pengendalian industri rokok dan penolakan RUU Pertembakauan ini adalah tanggung jawab bersama dan pemerintah sebaiknya lebih proaktif untuk menyikapi hal ini. Masyarakat mengawal dan mendukung. Semata demi keselamatan generasi bangsa dan sisi-sisi lainnya yang lebih terjaga.

29 comments:

  1. Kalau rokok masih di jual, anak -anak remaja pasti tetap merokok. Sering di angkot saya temui remaja usia SMP merokok dengan bebas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Miris ya Mba, pas dikasih tau malah galakan dia. Hu uh maunya sih ditabok tuh anak tapi anak orang ntar bisa ditabok balik sm ortunya :))

      Delete
  2. ada sebaik nya emang di tegasin nih RUU Pertembakauan sama pemerinntah, gimana ya udah jadi style anak2 sekolah laki ataupun perempuan jaman skrg kalo ga ngrokok itu menurut mereka keren, padahal bahaya kesehatannya banyak banget

    ReplyDelete
  3. Kayanya hampir di setiap jengkal melihat lelaki selalu dengan rokoknya. Bahkan sambail kerja berat dengan alat berat di tanganpun, masih menyelipkan rokok di jarinya.
    Anehnya, perokok juga tak sedikit dari kalangan yang berpendidikan, yang nota bene tahu betul akibat buruk rokok bagi kesehatan, hehehe
    Saya dulu sering berkunjung ke sebuah desa yang sebagian besar masyarakatnya adalah petani tembakau.
    Memang benar, tak ada petani tembakau yang kaya raya secara riil dari hasil bertani.
    Memang tak mudah mengatur tembakau ini, penggemar rokok sekarang tak kenal usia, status sosial, ekonomi.
    Butuh kerjasama semua pihak, dari pemerintah, masyarakat dan aparat berwenang.
    Juga mungkin akan memakan waktu yang panjang untuk proses edukasi ke masyarakat.

    ReplyDelete
  4. Saya tak suka perokok dan merokok, namun saya suka iklan yg mereka buat, saya suka bagaimana mereka membuat dan menyampaikan pesan yang begitu menarik, Dan sebagai anak muda kita harus pintar Dalam memilih Mana yg suka & tidak, serta Mana yang baik & tidak.

    ReplyDelete
  5. Yang paling menyebalkan kalo menegur orang yang lagi merokok terus jawabannya "hei, ini tempat umum, kali mau nyaman nggak usah keluar rumah". Asli loh, terkadang dia yg egois dan merasa harus dimengerti..di pikir-pikir sudah banyak contohnya bagaimana gangguan kesehatan karena bahaya merokok apalagi risikonya bagi perokok pasif. Aturan untuk perokok yang harus merokok di tempat2 tertentu dan kalo melanggar akan dikenai denda sebaiknya terus diberlakukan.

    ReplyDelete
  6. Apapun alasannya, menurut saya merokok tidak untungnya sama sekali. Nyari pengakit dan 'membakar' uang saja. Bener-bener nggak ada positif-postifnya deh. Untungnya cuma bagi pengusaha pabrik rokok. Mending kalau yang sakit perokoknya sendiri, ini orang yang berada disampingnya, yang nggak sengaja menghirup asapnya juga kena imbasnya. Makanya saya mendukung didropnya RUUP itu.

    ReplyDelete
  7. Merekok buat saya tidak ada gunanya, buang-buang uang juga mengancam kesehatan, semoga RUU Pertembakuan ini bisa diterapkan lebih bijak untuk melindungi generasi muda kedepannya.

    ReplyDelete
  8. "Data Kementerian Kesehatan, bisa menghabiskan 30% dari total anggaran BPJS Kesehatan. Ini salah satu sumber defisit negara."

    Dari sisi ekomomomi cukup besar dampak buruk rokok bagi perekonomian Indonesia, karena biaya pengobatan akibat rokok yang besar.

    ReplyDelete
  9. Pengalaman saya urusan rokok adalah melanjutkan penerapan "no smoking" di pabrik dan kantor. Makan waktu hampir 5 tahun dengan program pemantauan serta proses mengingatkan terus menerus. But it's worthed...

    ReplyDelete
  10. Merokok itu berdampak buruk, baik lingkungan dan kesehatan. Suka sebel kalau lagi di taman, ada yg ngerokok, padahal anak-anak perlu tempat yg ramah lingkungan, akibat polusi asap rokok, terpaksa ga ngajak anak-anak ke teman komplek lagi. Apalagi merokok itu buang2 uang.

    ReplyDelete
  11. Merokok itu berdampak buruk, baik lingkungan dan kesehatan. Suka sebel kalau lagi di taman, ada yg ngerokok, padahal anak-anak perlu tempat yg ramah lingkungan, akibat polusi asap rokok, terpaksa ga ngajak anak-anak ke teman komplek lagi. Apalagi merokok itu buang2 uang.

    ReplyDelete
  12. Merokok emang membahayakan, seneng kalau ada tempat khusus merokok jadi kita bisa menempatkan diri. Tapi kadang miris ada wanita/ibu yang gak ngrokol duduk diarea asap rokok dgn banyak alasan (deket suami, ketemu teman), tapi wajah dan gelagat sebel sama asap. Nah khan aneh menurutku. Seneng kalau sama-sama mengerti.

    Semoga perokok selalu berkurang

    ReplyDelete
  13. Sayangnya Rokok dijual bebas banget, kalau gak bungkusan ya satuan yang jadi pelanggan tetapnya anak pelajar SD, Lalu orang yang gak ngerokok pun tetep kena imbasnya karena jd perokok pasif. Menurutku peran penting orang tua harus aktif mengedukasi bahaya rokok pada anak sejak dini, biar gak penyakitan karena rokok. Yang menyedihkanya, sekarang ini malah banyak juga orang tua yang membebaskan anaknya merokok, malah rokoknya pun joinan. Wah kalau sudah begini menjadi PeeR penting pemerintah demi generasi bangsa, sebab orang tuanya juga harus diedukasi. semoga saja di dalam RUU Pertembakuan ini bisa berjalan baik, demi melindungi generasi bangsa.

    ReplyDelete
  14. Miris bicara soal rokok gak ada habisnya....apalagi diqta sudah menjadi gaya hidup, Solusinya pemerintah hrus tegas bikin aturan sperti halnya miras, minimal penjualan rokok dibatasin mudah2an aja bisa mengurangi perokok

    ReplyDelete
  15. Ini wajib disebarluaskan kakah

    ReplyDelete
  16. Aduh teh, kasus rokok emang kayak gak kelar-kelar, ya. Mulai dari bahayanya, buruh kerjanya, para pemilik modal, generasi mudah yg paling rawan.

    Anak muda kan doyan banget musik ya, dan produsen itu berani mengeluarkan anggaran sangat banyak untyk menjadi sponsor acara tersebut.

    Bukan cuma festival umum, nyatanya rokok juga jadi sponsor di lembaga pendidikan, kampus-kampus itu kan.

    ReplyDelete
  17. Hemm...masalah rokok memang susah d berantas, smg apa yg d canangkan oleh pemerintah ttng RUU pertembakauan mendapat dukungan dari banyak pihak ��

    ReplyDelete
  18. Dari dulu hingga sekarang, dan semoga untuk seterusnya, saya ga pernah merokok. Plg sebel kalau lagi jalan2 dan menikmati sejuknya udara pagi, trus tiba2 tercium bau rokok :(

    ReplyDelete
  19. Saya tidak setuju kalo RUU itu disahkan. Pertama, merokok itu jelas-jelas TIDAK ada manfaatnya sama sekali. Sebaliknya, membawa dampak sangat buruk iya terutama buat orang di sekelilingnya.

    Di sisi lain, Pemerintah kita itu udah banyak yang korupsi. Ditakutkan, kalo ini gak dikawal dengan baik, bisa terjadi 'negosiasi' dari si empunya atau asosiasi pemilik industri rokok ke pemerintah terkait.

    Praktik-praktik seperti ini sulit dihindari. Tapi, bagaimana pun juga kita khususnya saya pribadi sebagai blogger ikut mendukung dan mengawasi jangan sampai RUU ini disahkan. Minimal, kita sudah berbuat yang terbaik daripada tidak sama sekali.

    ReplyDelete
  20. Untuk alasan apapun,saya tidak setuju rokok. Kalaupun alasan keberlangsungan petani tembakau dirisaukan, mereka secara bertahap bisa dipindahkan pada jenis pertanian lainnya.
    Kalau buruh pabrik rokok dikedepankan, secara bertahap juga buruh pabrik diberdayakan pada sektor lainnya.
    Saya bukan perokok, besar di keluarga bukan perokok. Benar2 merasakan, manfaat tidak merokok.

    ReplyDelete
  21. Aku dr dulu nggak suka banget teh sama yg suka merokok. Apalagi klo asapnya ganggu org sekitar. Sebel deh.

    ReplyDelete
  22. Duuuh duuuh... No-lah yang namanya rokok ini. Just wanna say, "Avoid or die". Tahu sih, yang ga ngerokok aja bisa koit, gimana yang ngerokok. Mencegah sakit kan lebih baik daripada ngobati.

    ReplyDelete
  23. Ngelus dada nih kalo sampe disahkan. Amit-amit deh, semoga jangan sampe sah yah teh. Alhamdulillah, sekarang di mall-mall, RS, beberapa area umum ada larangan No Smoking Area. Meskipun kadang ada saja yang melanggar.

    ReplyDelete
  24. seriusan teh pengusaha banyak yg impor tembakau? duh baru tau deh.., kirain selama ini mereka justru nguntungin petani tembakau, sedih :(. Kalo kebanyakan negatifnya ya kenapa harus disahkan, coba?

    ReplyDelete
  25. Tetangga ku.. istrinya mikir banget kalo mau belanja sayur.. diitung gitu karena duit terbatas.. suaminya ngebal ngebul aja ngerokok.. haduhhh

    ReplyDelete
  26. kalo ada yang ngerokok ddekat..kita langsung aja tutup hidung...tersinggung twrsinggung deh..penyakit kok dibagi2.. :D

    ReplyDelete
  27. Ikut komenin ini ah,,

    Rokok ga bagus, 100% semua orang sudah paham.
    Kalau ngomongin RUU yang sudah sampai prolegnas DPR, well berarti 'bargaining" politik sudah mulai jalan...

    Kalo menurutku sih harus mulai mereduksi produksi aja.. Menaikkan harga juga bukan solusi.. Bisa pula dengan pelan2 menurunkan kadar nikotin,, serius deh rokok akan jadi ga enak.. Dus, orang2 juga pelan2 akan berhenti meroko..

    ReplyDelete
  28. Orang tua yang tidak merokok kecendrungan anaknya tidak merokok. Orang tua yang merokok anaknya bisa jadi merokok bisa jadi tidak kecendrungan lebih besar merokok.
    RUU semuanya sarat kepentingan selama masih ada nilai rupiah di sana.

    Selamatkan generasi muda dari bahaya rokok.Katakan Tidak Untuk Asapa Rokok.

    ReplyDelete

Blogroll

About