Saturday, 8 April 2017

Waspada! Depresi Dekat Dengan Kita, Kenali dan Cari Solusinya

Share it Please


Apa yang terbayang jika ada kata “depresi” ? Bayangan depresi bagi sebagian orang, adalah kondisi stress berat, berantakan dan seperti orang gila. Ini yang terlintas sepintas. Padahal, Depresi tak selalu menampakkan ciri ekstrim seperti itu. Orang yang kelihatan baik-baik saja dengan berpenampilan rapi dan bersahaja pun bisa jadi sedang dirundung depresi. Hanya ditutupi dan dipendam saja.

Bahkan, kondisi seseorang yang depresi tapi kelihatannya baik-baik saja, justru lebih berbahaya jika tidak diketahui. Karena susah untuk menemukan solusinya.

Tanggal 5 April 2017 lalu, saya berkesempatan mendalami tentang depresi ini, mengetahui langsung dari narasumbernya di Kementerian Kesehatan RI (Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular) Jalan Percetakan Negara Jakarta.

dr.Eka Viora dan Dr. dr. Fidiansjah, SpKJ, MPH
Narasumber yang memberikan materi adalah Dr. dr. Fidiansjah, SpKJ, MPH, dr. Eka Viora SpKJ dan Nursiladewi dari WHO (World Health Organization)  Indonesia.

Depresi adalah sebuah keadaan/penyakit dengan gejala rasa sedih yang berkepanjangan dan hilangnya minat pada pekerjaan yang biasanya disukai, diikuti dengan ketidakmampuan menjalankan kegiatan yang biasa dilakukan sehari-hari setidaknya dalam waktu dua minggu.

Pengidap depresi biasanya energi menurun, tidak ada rasa percaya diri, merasa gagal, mengalami perubahan napsu makan, kurang tidur, cemas berlebihan, tidak mampu membuat keputusan dan cenderung putus asa.

Menurut dokter Fidi, depresi bisa disembuhkan dengan terapi, bisa dalam bentuk konsultasi atau pengobatan anti depresan atau gabungan keduanya.

“Jika masih gejala atau depresi ringan, sebaiknya perbanyak konsultasi dan cari hal yang dapat melindungi dari depresi. Jika sudah sampai taraf depresi yang parah, biasanya ada pengobatan yang kompleks karena berhubungan dengan kondisi organ tubuh yang terganggu, misalnya sesak napas, gangguan lambung karena pola makan berubah atau sakit kepala yang hebat.” Kata dokter Fidi.

“Tahun 2030 Indonesia diperkirakan akan dibebani tiga penyakit besar, diantaranya HIV, Depresi dan Jantung. Oleh karena itu, pencegahan harus digencarkan mulai dari sekarang.” Tambah dokter Fidi.

Sementara menurut dr.Eka Viora menjelaskan tentang pemicu depresi sebagai berikut:

Penyebab Depresi pengaruh dari luar:

Konflik Keluarga: Permasalahan keluarga yang tidak terselesaikan mengakibatkan beban pikiran. Beban berat karena menyangkut orang terdekat yang bermasalah berpotensi menimbulkan depresi. Jika tidak segera ditangani, akan berkelanjutan.

Konflik antar personal: Jika mempunyai masalah pribadi, sebaiknya cari akar permasalahan. Cari tahu sebab akibatnya, jika dari pihak kita yang salah, segera minta maaf dan klarifikasi. Masalah jika dipendam terus akan menimbulkan masalah yang menumpuk dan tidak baik untuk kesehatan jiwa juga fisik.

Peristiwa Kehilangan dan kekecewaan: Seseorang yang kehilangan orang yang disayanginya cenderung depresi, apalagi jika sudah sangat dekat. Begitupula dengan orang yang mengalami kekecewaan besar terhadap sesuatu. Jika dipelihara dan dibiarkan akan menggerus tubuh dan mudah dihinggapi penyakit.

Obat terlarang dan Alkohol: Efek dari obat terlarang dan alkohol menimbulkan depresi saat ketagihan atau sakau dan berpengaruh pada perilaku lainnya.

Penyebab Depresi pengaruh dari dalam:

Pengalaman Buruk Masa Lalu: Setiap orang punya pengalaman masa lalu, untuk pengalaman yang buruk jika diingat terus berpotensi menimbulkan kecemasan dan ketidaknyamanan dan berujung depresi.

Kepribadian: Kepribadian yang di luar batas atau kebiasaan memelihara sesuatu yang kurang baik juga berpotensi depresi.

Turunan

Banyak komunikasi untuk mencegah depresi

Menyikapi potensi depresi tersebut, ada faktor pelindung yang dapat mencegah atau menyembuhkan depresi, diantaranya:

Dukungan Sosial : Perbanyak silaturahim dengan keluarga besar, sering bertukar pikiran dan berbagi informasi. Pilih salah satu anggota keluarga yang dapat dipercaya untuk curhat atau melampiaskan sesuatu untuk dicarikan solusi. Kurangi aktivitas online yang tidak perlu.

Tingkatkan keimanan dan aktivitas kegiatan religius. Dekatkan diri sama Sang Pencipta. Selalu libatkan Sang Pencipta dalam segala hal.

Mekanisme Koping yang Sehat:

Mudah beradaptasi dalam segala lingkungan: Lentur dalam bergaul, proporsional dalam bersikap, kedepankan empaty dan selalu bisa menitipkan diri.

Kepribadian yang Matang: Belajar mengelola masalah jadi solusi dan memandang kehidupan secara luas.

Pola Hidup Sehat:

Gizi Seimbang: Asupan nutrisi sangat penting dan pola makan yang teratur dapat menjadi benteng timbulnya depresi. Karena kondisi badan yang sehat akan menjadi jiwa yang sehat pula. Pikiran akan segar dan mampu berpikir panjang.

Olah raga teratur: Dengan olah raga teratur, kondisi tubuh akan semakin kuat, racun akan keluar melalui keringat dan kondisi berkeringat dapat menimbulkan perasaan senang dan segar.

“Depresi bukanlah suatu kekurangan akan watak manusia tapi depresi adalah penyakit dan bisa disembuhkan.” Kata dokter Eka.

Pesan WHO Indonesia
Sementara Nursiladewi dari WHO Indonesia mengungkapkan bahwa WHO menyerukan program “Let’s Talk” terhadap pencegahan Depresi. Senada dengan Program Kemenkes dengan seruan “Depresi Yuk Curhat

Artinya, dalam pencegahan depresi ini diperlukan pola komunikasi yang intens baik dalam keluarga, lingkungan rumah atau lingkungan sekolah. Jangan biarkan setiap individu memendam sesuatu yang tidak baik yang dapat menimbulkan depresi.

Selalu temani orang-orang yang berpotensi depresi dan ada kecenderungan melakukan bunuh diri. Bantu setiap orang yang membutuhkan. Jika perlu, jadilah pendengar bagi yang membutuhkan untuk mengungkapkan sesuatu. Jika perlu, bisa memanggilkan psikolog atau bantuan konseling lainnya.

Remaja, bisa memanfaatkan UKS atau Badan Penyuluhan jika membutuhkan konsultasi, di beberapa puskesmas, ada layanan konseling untuk remaja, ini bisa dimanfaatkan.

Selain itu, ibu hamil dan pasca melahirkan juga berpotensi mengalami depresi karena perubahan hormon, perubahan polah hidup karena kehadiran individu baru atau keadaan baby blues.
Intinya adalah beri penguatan, perbanyak komunikasi dan pendampingan.

Di akhir diskusi, Ibu Yana sorang survivor Depresi pasca melahirkan dan Founder “Mother Hope” bercerita pengalaman saat depresi pasca melahirkan, awalnya ia merasa gagal dan cenderung putus asa akibat kehamilan pertamanya gagal dan mengakibatkan tak menikmati kehamilan kedua karena takut merasa kehilangan lagi. Anaknya mengalami kesusahan minum ASI, Ibu Yana tambah depresi dan tidak mau dekat anaknya.

Kondisi tamu yang datang banyak dan selalu menghakimi membuat Ibu Yana tambah depresi, nasib baik suaminya mulai sadar dan membawa Ibu yana ke psikiater, mendampingi Ibu Yana hingga pulih dan bisa merawat diri kembali serta mau merawat anaknya.

Kebangkitan Ibu Yana, berhasil mendirikan Komunitas Mother Hope yang dimotori dirinya bersama seorang psikolog. Tujuan dari pendirian komunitas ini, Ibu Yana tidak ingin ibu-ibu pasca melahirkan di luar sana, mengalami hal serupa dengan dirinya. Komunitas ini kerap melakukan talkshow dan webminar dengan pendampingan psikolog bagi para anggotanya.

Mulai sekarang, yuk cegah depresi sama-sama dan tingkatkan komunikasi antar individu, perbanyak silaturahim dan perbanyak energi positif serta tingkatkan kegiatan religius sesuai keyakinan masing-masing.

Dukung setiap orang dengan dukungan sosial dan berikan semangat dengan cara pendekatan dan kasih sayang. Buka komunikasi yang baik dan saling pengertian. Bukan saling menghakimi atau menyudutkan yang berpotensi membuat seseorang merasa gagal akhirnya depresi. Jadi, mendingan curhat yuk!
 

18 comments:

  1. Sekarang agak susah Teh mencari teman untuk cerita, tp untuk bersenang-senang banyak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahah jangan putus asa Mba pasti ada lah yang bisa dipercaya :)

      Delete
  2. Bertemu teman dn bercerita mungkin benar ya teh bs menghilangkan depresi,,, plg tidak bs d cari seseorang yg d ajak curhat ,,, noted teh nuhun infnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba cari teman yg bisa bikin kita nyaman buat curhat

      Delete
  3. Bener nih, terasa banget, kalo pikiran lagi ruwet,terus olahraga, abis itu jadi agak tenang. Hidup sehat memang penting ya. Depresi tuh ngeri banget, kadang2 penderitanya pun nggak ngerasa klo lagi depresi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh bener banget banyak yg tipe kayak gini

      Delete
  4. Biar nggak depresi, daku nulis dan membaca, Ani.
    Lumayanlah bisa meluapkan perasaan melalui tulisan :)

    ReplyDelete
  5. Kalau ternyata faktanya seperti itu, berarti generasi milenial rentan depresi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa ya bisa tidak, tergantung personal dan pola hidupnya

      Delete
  6. Kalo mulai terasa mellow galau (haiyaaah) aku stay away dari medsos Teh. Detoksifikasi sejenak gituh :) Trus, olahraga, baca Al-Qur'an, tafsir, dan murojaah setor hapalan juga. Alhamdulillah, it works!
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
    Replies
    1. Antidepresi yang mantap Mba Nurul.
      Setuju sekali dengan membaca Al Qur'an

      Delete
  7. Depresi itu ternyata penyakit awalnya saya kira cuma istilah aja.
    Hati2 depresi juga bsa mengenai anak2 kita ya teh?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas Yusep, harus diwaspadai juga untuk anak2 karena rentan depresi saat di lingkungannya, rawan bully dan anak kecil yg susah makan juga rentan depresi.

      Delete
  8. saya mah ga hobi curhat, tapi lebih sering jadi pendengar curhat yang baik
    hi hi hi

    depresinya itu sebagian muaranya dari pekerjaan, untuk mengatasinya biasanya saya jalan2 ke taman buat liat pemandangan menarik, kadang bisa jadi obat yang ampuh. atau manciiiiiiing, kalo malam hari. pas paginya, langsung seger deh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huwaaaaa mancing, aku pengin banget mancing tapi bukan mancing keributan dong ya wkwkwkwk

      Delete
  9. Seneng banget bisa tau tentang depresi terutama ciri2 depresi pada anak-anak karena mereka masih belum begitu terbuka banget mengenai masalah.

    ReplyDelete
  10. Banyak yg deoresi lalu dikira kesurupan...jangan sampai deh gt. Kontrol stressor

    ReplyDelete

Blogroll

About