Pages

Wednesday, 27 September 2017

Inspirasi dan Semangat dari Gerobak Sayur

Share it Please
Sebagai content writer, dituntut untuk kreatif dalam membuat artikel supaya tidak sama isinya dengan yang bertebaran di internet. Terutama ketika menempati posisi di search engine google. Kreativitas itu tentunya harus memberikan angle tulisan yang unik, jarang diulas oleh website lain dan memiliki narasumber yang valid.

Biasanya, beberapa perusahaan tempat saya bekerja, membebaskan saya untuk mencari narasumber asal relevan dengan tema yang diulas. Kesempatan ini, saya gunakan untuk menggali lebih dalam narasumber di daerah-daerah yang konsen dalam pemberdayaan perempuan. Karena saya fokus lebih banyak untuk kategori ini.
Hobi saya yang suka jalan dan menyukai segala hal baru termasuk berinteraksi dengan orang baru, itu adalah kesenangan saya. Sangat cocok ketika saya harus mengejar narasumber hingga daerah tempat tinggalnya.

Dua tahun lalu saya ke Ngawi Jawa Timur untuk mewawancara Mba Reni penjual sayur keliling yang peduli dengan kesehatan reproduksi. Tadinya saya hanya ingin mewawancarai Mba Reni tetapi banyak selain Mba Reni yang bisa diwawancarai untuk memperkaya ulasan saya di salah satu website NGO yang bekerjasama dengan saya. Ini rezeki banget buat saya.

Mba Reni dan Gerobak Sayur nya
Sambil jualan sayur bersosialisasi soal kesehatan reproduksi

Untuk menikmati suasana Desa Nglencong di Ngawi ini, saya memilih penerbangan sampai Solo dari Bandara Adi Soemarmo Solo, saya naik taksi bandara sampai tujuan. Di sepanjang jalan melihat pemandangan sejuk dan penduduk yang terlihat ramah. Oh ya, untuk ke Ngawi memang lebih dekat dari Solo daripada Bandara Djuanda Surabaya.

Penginapan, saya dari jauh hari sudah menghubungi salah satu anggota organisasi yang hendak saya wawancarai, yaitu di rumah Ibu Anis Setyowati yang hanya tinggal berdua dengan ibunya. Baru sampai di rumahnya, saya sudah merasa nyaman. Suasana yang benar-benar sesuai untuk pekerjaan saya, bisa menulis dengan konsentrasi tinggi dan hawa sejuk walau tanpa AC. Di sana saya serasa tinggal di vila.

Saya di sana tiga hari empat malam dan benar-benar menikmati suasana rumah pedesaan, setiap hari makan dari hasil kebun belakang rumah, ada pecel kembang turi, sayur asem, tempe mendoan, ayam ungkeb, sampai minuman jeruk lemon pun didapat dari kebunnya. Bagaikan surga buat saya.

Rumah Ibu Anis juga di belakangnya ada hutan kecil yang ditumbuhi pohon jati tinggi-tinggi dan setiap pintu dibiarkan terbuka lebar, menurutnya biar tetangga merasa nyaman jika ingin singgah dan tidak merasa sungkan. Kehidupan sosial yang nyaris tak saya temui di kota besar. Walau pintu-pintu terbuka lebar namun di sana tetap aman.

Walau dalam rangka pekerjaan tapi saya merasa ini adalah refreshing dan Ibu Anis mengizinkan saya mewawancarai narasumber di rumahnya yang luas ini. Mba Reni dan beberapa perempuan inspirastif penggerak organisasi Aisyiyah di Ngawi pun berdatangan ke rumah Ibu Anis. Kami berbincang santai sambil menikmati kudapan khas pedesaan. Seperti, pisang rebus, kacang rebus, teh tubruk manis dan keripik singkong pakai gula yang disebut loncis.

Ngobrol santai sambil menikmati kudapan khas desa
                            
Pecel Kembang Turi buatan Ibu Anis
Obrolan santai ini sebenarnya untuk konten website, karena wawancara perempuan di pedesaan itu memerlukan pendekatan supaya mereka tidak grogi atau kaku, maka kami ngobrol saja layaknya tidak sedang bekerja. Tapi minta izin untuk merekam percakapan dan mereka tidak masalah.

Sekarang kenalan yuk dengan Wahdatul Aini atau akrab dipanggil Mba Reni. Ibu satu anak usia 27 tahun ini, berprofesi sebagai penjual sayur gerobak keliling. Setiap jam 2 dinihari, ia harus ke pasar untuk belanja sayuran untuk dijajakan paginya.

“Saya kadang diantar suami kadang tidak. Bahkan ketika hujan deras pun saya tetap pergi walau suami melarangnya. Karena gimana ya? Takut kehabisan kalau kesiangan sedikit saja. Itu sudah risiko tapi alhamdulillah selama ini saya aman saja. Berdoa saja.” Ujarnya dengan nada riang.

Reni menjajakan sayuran dengan gerobak yang dijalankan sepeda motor miliknya dari jam 5.30 hingga jam 10 pagi. Pada saat menjajakan sayur inilah Mba Reni melakukan misinya untuk mengajak semua pelanggannya yang mayoritas ibu rumah tangga untuk selalu memeriksakan rahimnya melalui tes IVA dan Papsmear di klinik desa.

Menurutnya, sudah ada fasilitas terjangkau dari pemerintah harus dimanfaatkan. Apalagi untuk kesehatan sendiri yang berakibat jangka panjang. Mba Reni tergerak sosialisasikan kesehatan reproduksi karena telah merasakan manfaatnya.

Salah satu enyuluhan yang diikuti Mba Reni
Awalnya, Mba Reni ikut penyuluhan Pasangan Usia Subur di desa Nglencong bersama Balai Sakinah Aisyiyah yang didukung salah satu NGO dan pemerintah. Setelah ikut penyuluhan, Mba Reni ingin memeriksakan rahimnya dan ternyata terdeteksi Sariawan Rahim lalu diobati hingga sembuh dan terus memeriksakan rahimnya secara rutin. Dampak positif yang dialaminya membuat Mba Reni ingin semua temannya termasuk pelanggannya melakukan hal yang sama.

“Awalnya saya dipandang sebelah mata dan banyak yang menyepelekan tapi saya memang sudah merasakan dampak baiknya memeriksa IVA dan Papsmear juga ikut penyuluhan kesehatan, jadi tidak ada salahnya toh saya mengajak untuk kebaikan?”

“Saya tidak pernah memedulikan sama yang menyepelekan alhamdulillah saya yang terus maju sosialisasikan hal ini sambil jualan ada hasilnya. Beberapa pelanggan saya akhirnya ada yang ikut penyuluhan rutin dan memeriksakan alat reproduksinya.” Tambah Mba Reni.

Melihat keberhasilan sosialisasi Mba Reni yang lebih efektif sambil jualan karena bahasanya mudah dimengerti awam, akhirnya pihak organisasi yang menyelenggarakan penyuluhan memberikan kepercayaan untuk Mba Reni menjadi koordinator penyuluhan rutin untuk wilayahnya.

Mba Reni mendapatkan banyak ilmu tentang kesehatan reproduksi dari narasumber penyuluhan dan sering menyampaikannya kembali ke pelanggannya setiap pagi. Suaminya sangat mendukung kegiatannya.

Selain Mba Reni, saya juga mewawancarai Ibu Mufida yang berprofesi sebagai petani namun aktif di kegiatan pemberdayaan perempuan dengan menggerakkan kegiatan pelatihan usaha rumahan bagi tetangganya.

Ibu Mufida memberikan pelatihan membuat loncis atau keripik singkong bersalut gula merah. Biasanya, dilakukan setelah pulang dari sawah.

Ibu Mufida
Lagi-lagi, saya jalan-jalan asyik di Desa Ngawi. Karena harus mengejar waktu, akhirnya saya mendatangi Ibu Mufida ke sawah yang digarapnya. Saya melompati galengan-galengan sawah dengan riang seperti anak kecil menemukan lapangan bermain. Maklum, saya jarang sekali menemukan lingkungan seperti ini.

Main dulu di sawah 
Ngobrol santai sambil makan siang 
Sambil menunggu Ibu Mufida selesai menanam benih padi, saya bermain air dulu dan menikmati pesawahan dengan latar Gunung Lawu yang sejuk. Momen ini tak saya sia-siakan. Saya benar-benar menikmatinya.

Saya dan Ibu Mufida ngobrol santai sambil menikmati makan siang yang dibawanya dari rumah. Khas pedesaan sekali. Walau sangat sederhana, menu tumis genjer plus orek tempe ditambah kerupuk dan sambal, enak sekali disantap di tengah sawah dengan angin semilir menyejukkan.

Ibu Mufida tak kenal lelah selain bekerja di sawah juga sosialisasikan kesehatan reproduksi untuk kelompok masyarakat binaannya.

“Perempuan di rumah tak hanya berfungsi sebagai ibu dan istri namun harus menjadi agent of change bagi kesejahteraan rumah tangganya. Misalnya, dia harus sehat karena menjadi tokoh utama di rumah yang harus menyediakan makanan, membimbing anak dan melayani suami. Selain itu, perempuan juga harus mandiri walau ada suami. Jadi, bisa bantu suami dengan usaha rumahan. Seperti jualan kripik atau susu kedelai atau apa saja sesuai kemampuannya.” Kata Ibu Mufida.

Kesan yang saya tangkap saat itu, luar biasa! Perempuan pedesaan bisa punya pemikiran luas dan se-moderen itu? Saya sampai malu sendiri. Kebanyakan perempuan di kota terlalu konsumtif dan (maaf) banyak gaya tapi minim sekali aksi sosial yang dilakukannya.

Dari perjalanan ini, saya menangkap pesan moral bahwa profesi apapun selagi punya kemampuan dan ilmu yang didapat, tak ada salahnya untuk meneruskan kembali wawasannya pada sekitarnya. Tidak ada kata takut atau tidak pede. Ini terbukti dari kiprah Mba Reni dan Ibu Mufida yang kesehariannya boleh dibilang lebih sibuk dan lebih capek dari kita, tetapi masih sempat berbagi kebaikan dengan sekitarnya tanpa pamrih dalam kapasitas yang dimilikinya. Dan mereka melakukan semua itu ikhlas tanpa pamrih. 

Pulang dari sana, saya merasa fresh karena menikmati alam pedesaan dengan penduduk super ramah dan memperoleh banyak sekali inspirasi dari perempuan-perempuan inspiratif yang saya temui.


Terima kasih Ibu Anis dan Ibundanya yang sudah menerima saya layaknya keluarga
Saya selalu merasa kangen dengan suasana itu. Ini adalah perjalanan saya yang tak terlupakan. Membuat saya sebagai perempuan yang hidup di kota dengan banyak fasilitas kemudahan, mengapa tak berbuat sesuatu yang lebih baik dari Mba Reni atau Ibu Mufida dalam berkontribusi untuk sekitarnya?

Untuk traveling saat ini sangat mudah dengan adanya Skyscanner yang menyediakan tiket pesawat, hotel hingga penyewaan mobil di daerah tujuan. Dengan harga murah tentunya sehingga bisa menghemat biaya traveling dan alokasi dana sisa bisa buat post lainnya yang lebih penting.

Harga murah dengan pelayanan terjamin, membuat siapapun tenang selama masa perjalanan. Karena berbagai info penting pun sering update di sosial medianya. Ditunggu perjalanan saya berikutnya dan mana cerita perjalananmu? Jika belum ada, yuk segera traveling ke destinasi yang diinginkan, manfaatkan kemudahan dari Skyscanner. 


49 comments:

  1. Wah terharu aku teh. Aku percaya sih, sejatinya perjalanan adl tentang memaknai kehidupan. Perempuan perempuan hebat itu makin nambah semangat aku nih untuk terus berusaha mwwujudkan harapan dan impian yg kita punya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, saya juga malu belum banyak berbuat padahal kita fasilitasnya lebih baik dari mereka :)

      Delete
  2. Ini salah satu yang dibutuhkan Indonesia, seorang penggerak, seoramg yang sadar dan peduli akan kesehatan diri nya terlebih dahulu, dengan tujuan agar orang lain percaya bahwa ada bukti ketika ia memberikan saran untuk mengajak kebaikan. Keren!

    Btw, aku belum pernah ke daerah sana, aku masukin kist tempat traveling akh, hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Traveling gak perlu ke tempat mainstream kan Ris? Heheheh

      Delete
  3. Saya bangga menjadi perempuan Indonesia, terlebih melihat semangat perempuan-perempuan daerah Ngawi yang totalitas mengurus keluarga, bekerja dan masih semangat melakukan penyuluhan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, semangat mereka menularkan hal positif yang menggerakkan nurani untuk berbuat sesuatu

      Delete
  4. Patut dicontoh semangat-semangat perempuan di daerah Ngawi ini.. foto-fotonya bagus jadi inget kampung halaman.. :)

    ReplyDelete
  5. Nah, mereka saja peduli dengan kesehatan dan kelangsungan hidup masa depan dengan menjaga bagian vital kehidupannya. Pantang menyerah menyuarakan kesehatan kepada masyarakat banyak. Salut!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menginspirasi ya Mas Jun? Padahal itu gak mudah, perlu jiwa besar dan rasa percaya diri tinggi untuk menyakinkan orang lain.

      Delete
  6. Bener teh kadang kalau sudah liat judul link sama semua saya suka jd males hehehe y baca ny ya naro jg, harus kreatif y! Seru y jalan2 nya dapat dobel manfaat senang2 refresing nambah ilmu jg pengalaman tentan kehidupan wanita di daerah ternyata pemikiran mereka juga maju dan tidak ketinggalan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya jangan pandang sebelah mata wanita pedesaan hahaha

      Delete
  7. Wah keren sekali tukang sayur tapi sangat menginspirasi, suasana pedesaan bikin damai hati.

    ReplyDelete
  8. Papsmear emang super penting. Setidaknya, kalau ada sesuatu bisa tahu sejak dini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Mba, saya pun gak mau kalah sama Mba Reni itu hehehe

      Delete
  9. Salut sama Mbak Reni. Jadi pengen kenal langsung. :D

    ReplyDelete
  10. Suasana pedesaan memang bikin betah. Salut juga sama mba penjual sayuran itu, sambil jualan sambil memberi edukasi tentang kesehatan reproduksi. Jarang banget ada yg seperti itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kesehatan reproduksi penting banget dan saya rasa perempuan kota pun belum tentu peduli ya?

      Delete
  11. Mba Rani satu diantar perempuan tangguh, harus ada niat dan tekat kuat untuk mengajak orang agar maju bersama.
    Itu kembang turi bikin mupeng teh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Mba perlu mental baja dan tingkat pede tinggi

      Delete
  12. Aku justru mikir perempuan perempuan desa tuh tangguh tangguh ya teh... Dibalik kesederhanaan mereka ada semangat yang keren abis... Mereka bener bener menginspirasi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tangguh dan smart dengan segala keterbatasannya. Jika diasah dan difasilitasi mereka bisa lebih hebat

      Delete
  13. Orang-orang seperti mba Reni ini yang harusnya kita jd kan contoh dan penyemangat ya teh

    ReplyDelete
  14. jadi ingat kampung halaman liat pemandangan desanya..

    ReplyDelete
  15. Sangat menginspirasi semangatnya patut dicontoh dan membuat saya juga makin semangat walaupun kadang banyak kendala untuk mewujudkan impian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kania mah masih panjang perjalanan, tinggal mengasahnya

      Delete
  16. Yes, itulah makanya mengapa kita harus sering keluar rumah, ke tempat2 yang baru dan orang2 yang berbeda.. serta memberikan sesuatu, paling tidak pengetahuan bagi mereka. Tanggung jawab sosial pribadi sih kalau saya.. smoga teh Ani terus berkelana sosial, dan mendapatkan ilmu dari alam dan lingkungan utk kemudian dibagi lagi.. amin.. semangat teh (main di sawahnya hehe)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin makasih support nya Kang Unggul

      Delete
  17. seperti biasa, tulisan2 teh Ani selalu menginspirasi deh.. Salut buat perempuan2 tangguh di dlm tulisan ini juga..

    ReplyDelete
  18. Semoga semangat perjuangan sosialiasi pentingnya kesehatan reproduksi mba Reni ini tersebar dan didukung juga dipelosok ke daerah2 lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga Mba Reni nya sehat juga mba ya

      Delete
  19. Penelitiannya enak banget, Teh. Selain bisa mengunjungi daerah baru, ketemu orang baru, juga bisa menikmati makanan khas pedesaan dan kesahajaan penduduknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar2 penyegaran banget di sana dan gak ada sinyal buat internetan juga jadi gak melulu di dunia maya :D

      Delete
  20. tjakeppp bu,kisahnya menginspirasi
    udah lama ga nulis features seperti ini sambil jelajah ke pelosok negeri :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dan saya ketagihan mau menjelajah negeri yg lebih jauh lagi hehehe

      Delete
  21. Masya Allah menginspirasi sekali teh kisahnya Mba Reni dan Ibu Mufida, dua sosok perempuan hebat dari Ngawi yang peduli akan kesehatan reproduksi. Cara mereka mengedukasi masyarakat juga tergolong unik ya teh, semoga bisa dicontoh banyak orang :)

    Betah ya teh dengan suasana di sana yang adem nan sejuk, pemandangannya bagus rek :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mel dari dua wanita itu saya dapat energi positif dan makin semangat saat pulang ke rumah

      Delete
  22. inpirasi memang bisa datang dari mana saja. Gak harus dari sosok terkenal. Kagum dengan semangat Mbak Reni dan ibu Mufida. Kadang jadi malu sendiri sayanya kalau lagi loyo semangatnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benarrrr saya pun malu, jujurrr hahaha

      Delete
  23. Suasana desa yang asyik. Kerja rasa liburan ya teh.

    ReplyDelete
  24. Terima kasih ya sudah ikutan Blog Competition "Aha Moments" Skyscanner Indonesia. Good luck :)

    ReplyDelete
  25. Jejak. Terima kasih atas partisipasinya. :)

    ReplyDelete
  26. Sehat2 yaaa mba Reni, hadeuuhh namanya....haha. Btw itu yg lg main d sawah mani jarambah, inget masa lalu main jauh ke Curug haha.

    ReplyDelete

Blogroll

About