Pages

Wednesday, 10 January 2018

Mantra Guruku Menyihir Masa Depan Dengan Sempurna

Share it Please


Ibu Tuti

Perawakannya yang subur dan tinggi selalu semangat dalam memberi materi pelajaran IPS Georafi saat saya SMP. Adalah Ibu Tuti. Nama lengkapnya saya lupa. Maafkan daku ya Bu. Ibu Tuti setiap mengajar tak sekadar menjelaskan gunung berapi,stalagtit, stalagmit, lintang, bujur, lempeng atau peta dunia.

Lebih dari itu, dalam setiap penjelasannya selalu disertakan contoh kasus dengan story telling yang mampu menyihir kami untuk terus menyimak dan terkesima dengan setiap penjelasannya. Misalnya, menceritakan tentang negara-negara maju yang menghasilkan tenaga ahli. Sehingga mampu membangun negara kaya dengan teknologi canggih yang mendunia.

Atau menceritakan kecerdasan orang Jepang yang menciptakan teknologi untuk kebutuhan hidupnya yang termotivasi oleh keadaan cuaca dan letak geografis yang dibandingkan Indonesia, tentu saja Indonesia lebih beruntung kalau soal iklim. Jepang berpikir keras membuat AC karena cuaca terlampau panas atau membuat pemanas karena sewaktu-waktu musim dingin dengan suhu jauh di bawah nol derajat.

“Indonesia beberapa puluh tahun ke depan bisa mengejar negara-negara maju itu.Bisa? Pasti bisa. Karena Indonesia punya calon tenaga ahli yang banyak. Siapa mereka? Kalian-kalian ini.” Ujarnya sambil menunjuk kami semua dengan yakin.

Kalimatnya itu selalu diucapkan berulang-ulang. Sehingga kami merasa tersihir dengan setiap perkataanya yang saya rasa itu ibarat mantra. Walau kenyataannya sekarang belum menjadi tenaga ahli yang selalu diharapkan Ibu Tuti, tapi saya sangat yakin pada saat itu. Merasa yakin ucapannya adalah benar. Cukup memberikan sugesti positif unuk saya terutama dalam hal kepercayaan diri.

Efeknya saya selalu bercita-cita menjadi seseorang yang mampu membawa nama baik bangsa dan bisa berbuat sesuatu. Karena setiap Ibu Tuti bercerita, selalu membahas soal delegasi bangsa di kancah luar negeri. Saya membayangkan bahwa di masa depan,menjadi duta besar, konsulat atau atase. Masih SMP berkeinginan kuliah di Hubungan Internasional (HI).

Walau kenyataannya tidak terlaksana, setidaknya mantra Ibu Tuti sudah ngefek dalam benak. Saya menyukai berkomunikasi dengan banyak orang termasuk orang asing untuk menyerap wawasan dan berbagai sudut pandang. Sehingga alhamdulillah mayoritas selalu goal dalam hal melobi untuk suatu kepentingan.

Membawa nama baik bangsa dan berbuat sesuatu? Walau dalam skala kecil, tercapai ketika menjadi salah satu delegasi ASEAN Work Life Balance di Kuala Lumpur pada 2016 sebagai pembicara mewakili Indonesia dan diundang menghadiri seminar internasional di Singapura pada April 2017.

Pak Ketut Adnyana

SMA saya bertemu lagi dengan guru yang memberi mantra awet khasiatnya hingga sekarang. Bahkan mantra itu saya terapkan dalam mendidik anak saya juga. Dialah Ir.Ketut Adnyana. Akrab disapa “Pak Ketut” berperawakan seperti militer dan lugas dalam berbicara. Pak Ketut guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila) kalau sekarang apa ya? Budi Pekerti kah?

Sungguh pelajaran PMP ini sangat jitu menurut saya. The best lesson ever to provide a good attitude.
Pembawaan yang kocak dari Pak Ketut tak pernah membuat kami bosan menyimak setiap paparannya. Bahkan saat membahas suku, Pak Ketut selalu menerapkan kepada kami untuk selalu memegang prinsip “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”

Sambil nunjuk Rina yang bearsal dari Bukittinggi “Rina, kamu makan, buang air besar tak harus pulang ke Bukittinggi kan? Pasti makan dan buang air besar di Bandung. Sudah selayaknya beradaptasi juga dengan budaya di sini.” Katanya.

Satu kalimat yang terpatri adalah pesannya “Ilmu pengetahuan itu wajib diraih. Sesusah apapun, semahal apapun dan sekeras apapun. Karena hanya ilmu lah yang dapat membuat hidup kita bertahan saat berada di mana pun.”

“Saya dari Bali ke Bandung tak berbekal banyak uang atau barang berharga. Hanya cukup ongkos seadanya beserta doa orangtua. Selebihnya ilmu. Saya punya ilmu mengajar untuk mendapatkan banyak persediaan bekal saat merantau.”

“Apakah saya dapat hidup di daerah orang lain karena perbekalan uang dan barang berharga yang banyak? Tidak, saya justru bisa bertahan karena ilmu yang saya miliki.” Ujarnya mantap.

Maka, saya percaya dengan anjuran dan perkataanya. Saya terapkan terus dan mengisi sugesti saya hingga sekarang. Alhamdulillah apa yang dikatakan Pak Ketut sejak 25 tahun yang lalu itu sangat terasa efeknya. Saya jalankan anjurannya. Lagi-lagi mantra itu memberi efek sihir kuat. Saya berhasil survive hidup di ibukota dengan penghasilan cukup. Bukan karena bekal harta yang dibawa dari Bandung namun karena ilmu. Saya datang ke Jakarta dengan ilmu dan niat baik.

Pak Nilnaiqbal, BSc

Di bangku kuliah saya bertemu Pak Nilnaiqbal,BSc. Akrab disapa Pak Iqbal. Seorang mentor saat Achievement Motivation Training.

Dalam kuliahnya, memberi mantra pada kami bahwa lima tahun setelah lulus kuliah, kami harus mematri kalimat “Aku akan bekerja di sebuah perusahaan menjadi akunting dan tak perlu lama menaiki jabatan account officer”

Saran tersebut disampaikan di hadapan kami yang mengambil jurusan Akuntansi. Kalaupun ada yang tak punya cita-cita menjadi akunting, lalukan hal yang sama dengan menyebutkan profesi yang diinginkan yang ada hubungannya dengan jurusan yang diambil.

Menurutnya, tercapai atau tidak yang penting yakin dulu dan ciptakan sugesti untuk mendorong usaha agar harapan itu tercapai. Pak Iqbal menekankan bahwa setiap orang wajib mempunyai Goal Setting.

Dalam setiap kesempatan harus selalu yakin berhasil dan berkata “Aku bisa!”

Pesan-pesan Pak Iqbal bukan pepesan kosong. Semua yang dikatakannya adalah benar! Saya selalu yakin dan tak hanya mengandalkan kepercayan diri. Tapi saya selalu mencari jalan untuk memenuhi segala kualifikasi agar harapan tercapai. Lulus kuliah bahkan saya menjajal belajar Bahasa Jepang dan memprdalam Bahasa Inggris.

Tak lama setelah lulus kuliah, saya langsung mendapat pekerjaan sebagai Akunting di perusahaan industri plastik forming di Johor Malaysia. Yap! Goal saya tercapai tidak tanggung-tanggung, menjadi akunting di perusahaan di luar negeri pada usia 23 tahun dengan gaji lumayan dan fasilitas layak.

Di tanah air pun mendapat kesempatan yang sama. Diantaranya kerja di Perusahaan Penyalur Tenaga Kerja Indonesia, Adam Air Skyconnection Airlines dan Akuntan Publik. Ilmu yang saya dapat tentunya tak mengendap dan alhamdulillah tersalurkan dengan baik di bidang pekerjaan yang sesuai. Ini berkat kekuatan mantra yang diajarkan Pak Iqbal disamping usaha dan doa.

Mantra yang diajarkan Pak Iqbal tentunya bukan sekadar mantra ajaib seperti dukun. Tapi lebih kepada menumbuhkan sugesti positif dan semangat. Agar kita selalu berusaha keras dengan segenap effort untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Intinya, berani bermimpi harus dibarengi dengan berani berusaha dan melakukan segala hal yang dapat menambah poin untuk memperoleh jalan keberhasilan tersebut.


Ibu Tuti, Pak Ketut dan Pak Iqbal adalah tiga guru dan dosen yang menjadi influencer dalam kehidupan dan karir saya sampai saat ini. Keberhasilan yang saya dapat ada peran mereka disamping berkat dari Allah SWT tentunya. Jujur saja, semua petuahnya masih terngiang dan menjadi alarm untuk selalu mengayakan diri. Terima kasih Pak, Bu. Jasamu tiada tara. 

6 comments:

  1. Super sekali teh.
    Ternyata memotivasi banget ya mantera dari para guru/dosen. Sudah dapat teteh wujudkan pula. Sukses selalu ya teh.

    ReplyDelete
  2. Guru-gurunya teh Ani luarrr biasaaa
    Ngga heran teh Ani jadi setrooongg
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  3. Bekal ilmu memang bekal yang terbaik untuk survive di dunia ya teh.

    ReplyDelete
  4. Guru-guru tersebut tidak hanya mengajarkan materi yang ada di text book tetapi juga menularkan semangat meraih cita-cita. Salut!

    ReplyDelete
  5. Iya Mbak, sepertinya saya hanya berani bermimpi tetapi selalu takut mewujudkannya. Salah satu faktor adalah ekonomi...
    Tetapi semoga 2018 saya lebih baik lagi...

    ReplyDelete
  6. Luar biasa ya mantra-mantra dari guru teh Ani. Tapi jika muridnya kurang peka ya enggak ada manfaatnya juga sih. Hehe. Tergantung muridnya juga.
    Btw sukses selalu ya, Teh. Menghargai jasa-jasa para guru kita insya Allah akan membuat ilmu kita juga akan barokah. Aamiin.

    ReplyDelete

Blogroll

About