Featured Slider

Mempersiapkan Dana Kuliah Dan Konsistensi Jurusan



Tujuh belas tahun lalu, bayi yang kerjanya tidur dan menyusu itu selalu tak bosan dipandang wajah mungilnya. Apalagi saat tidur. Sambil saya elus pipi dan dahinya, seuntai doa pun terlantun. Bahwa kelak, kamu jadi anak sholeha, pintar dan berguna bagi agama, bangsa dan negara. Saya aminkan berkali-kali. Tak sabar rasanya ingin bayi lucu ini lekas besar dan berlari.

Pulihkan Perekonomian Bersama Sahabat - UMi Bangkit


Tahun  lalu, Bernadete teman saya dari Maluku Utara video call, dengan logatnya yang kental Ia mengungkapkan kondisi usaha tenunnya yang tersendat karena pandemi, modal usahanya menjadi seolah Tarik menarik antara melanjutkan usaha atau dipakai untuk memenuhi kebutuhan perut anggota keluarganya. Karena pandemi membuatnya ketar ketir, mengingat pelanggannya sudah mulai menarik diri karena sedang sama susahnya menghadapi kondisi tak pasti ini. Saya tak banyak menyarankan apapun namun sigap membantunya untuk mempromosikan produknya tersebut ke teman-teman juga melalui sosial media.

Bekerja di Rumah Tanpa Burnout

 


Pernah lihat mesin mobil yang jika dijalankan terus menerus tanpa ada jeda untuk membuat mesinnya adem sesaat? Menjadi ngebul bahkan mengalami banyak gangguan pergerakannya. Ini karena kurangnya masa tunggu sejenak agar mesin tidak panas. Didiamkan tujuannya supaya mesin mobil tersebut dapat melanjutkan perjalanannya kembali dengan mulus dan kondisi prima.

Begitu pula dengan tubuh manusia, diibaratkan kendaraan adalah jasadnya. Sementara ruh yang merupakan kesatuan dengan pikiran dan perasaan adalah perangkat mesinnya. Kapasitas manusia ketika berkegiatan terutama pada saat bekerja, mempunyai kapasitas tenaga yang berhubungan dengan performa kinerjanya. Hal ini banyak ditemui sekarang. Di saat maraknya work from home (WFH) alih-alih menjadi lebih santai dan kesempatan curi waktu melakukan kebersamaan dengan keluarga, malah sebaliknya.

Lebih parah lagi, bukan quality time yang didapat. Namun serentetan kesalahpahaman dengan anggota keluarga serumah dan mood swing malah mendominasi keseharian sebagian pekerja yang WFH. Kesalahpahaman itu terjadi saat, kita sibuk sendiri berkutat di laptop dan handphone. Karena pikiran banyak ke kantor dan matarhon meeting via aplikasi online, membuat orang-orang yang ada di sekitar kita merasa diacuhkan. Bahkan ketika mereka mengajak bicara, rasanya ingin marah karena konsentrasi terpecah. Namun setelahnya malah menjadi merasa bersalah karena tak tega melihat raut kesedihan mereka yang teracuhkan.

Bekerja di rumah memang membuat raga kita dekat dengan keluarga namun secara jiwa dan pikiran tidak. Tuntutan deadline pekerjaan, atasan yang terlalu banyak menuntut dan semena-mena karena memandang kerja di rumah itu dapat dilakukan kapan saja. Termasuk malam hari bahkan tengah malam. Yang penting key performance indicator tercapai. Pegawai yang diinstruksikan tak punya daya upaya mengingat dirinya mengandalkan gaji dari perusahaan tersebut. Jadi, walaupun tertindas dan terampas haknya, tetap manut karena takut kehilangan pekerjaan tersebut.

Bekerja di Rumah Idealnya Tetap Mengacu Pada Jam Kerja

Saya sepakat dengan pendapat Christopher Barner, Profesor di University of Washington yang menyatakan ukuran jam kerja tak akan memengaruhi efektivitas dan kualitas pekerjaan seseorang. Karena kondisi ketahanan seseorang terhadap underpresser dan kekuatan lainnya berbeda. Yang menentukan kualitas kerja adalah bagaimana si pegawai mampu manajemen waktu agar target-targetnya terpenuhi.

Terpenting adalah tidak melebihi kapasitas tenaga dan kemampuan berpikir saat menjalani pekerjaan. Saat bekerja di rumah banyak yang salah kaprah dengan penerapan jam kerja yang tidak beraturan bahkan cenderung berlebihan.

Walau dapat dikerjakan di mana saja, kapan saja dan setiap saat dapat buka laptop dan hp, usahakan bekerja hanya di jam yang telah ditentukan. Hal ini juga harus didukung oleh perusahaan dan para pimpinannya. Agar karyawannya dapat bekerja sesuai porsi normal seperti WFO.

Alasannya, tentu saja untuk efek jangka panjang seperti mendapatkan tubuh tetap dalam kondisi prima dan pikiran tetap sehat dan terjaga. Karena hal ini sangat berpengaruh pada jiwa dan mental seseorang. Jika pikiran dijejali berbagai persoalan kantor yang tidak ada habisnya, terutama pekerjaan-pekerjaan yang mengharuskan terhubung dengan banyak orang, mengelola komunitas dan menghadapi konsumen yang merupakan pelanggan dengan segunung complaint setiap harinya, membuat kondisi mental bertambah down jika pegawai tersebut kebetulan mempunyai persoalan-persoalan hidup pribadinya. Ditambah dengan persoalan pekerjaan yang membuat kepala semakin berasap dan secara otomatis akan berpengaruh juga pada kondisi fisik.

Energi-energi negatif yang kita tangkap yang seharusnya diminimalisir, malah menjadi penambah beban pikiran karena energi negatif dari orang lain yang banyak mengeluh atau punya attitude kurang baik malah terserap ke alam bawah sadar.

Tips Memanfaatkan Waktu Libur Kerja

Saat libur tanggal merah atau libur akhir pekan, usahakan untuk tidak membuka file pekerjaan atau memikirkannya. Fokus pada diri sendiri untuk rileks dan melihat serta merasakan hal lain di luar zona kerja. Agar pikiran lebih leluasa dan siap menampung energi kembali dari menjalani hal-hal yang menyenangkan.

Alokasikan waktu untuk beberapa hal di luar pekerjaan sebagai berikut:

Jalani hobi, dengan menjalani hobi, membuat kita menemukan diri sendiri. Setelah bekerja dengan rutinitas yang kurang sreg di hati karena membuat lelah dan ada hal yang sedikit berentangan dengan hati nurani, saat menjalani kegiatan yang membuat kita senang justru dapat menemukan diri yang sesungguhnya. Merasa pulang ke rumah dan berhubungan dengan circle yang satu frekuensi. Cara relaksasi dan  refleksi diri yang efektif.

Misalnya, saat berkebun, melukis, menulis, balap motor, yoga dan lain sebagainya, hal ini akan memberikan ruang untuk diri sendiri agar lebih percaya diri dan merasa berguna karena mempunyai peranan penting dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Menjadi suatu bagian yang memberikan ruang bagi diri sendiri adalah bagian dari kebahagiaan tiada tara.

Meningkatkan value, suatu kebahagiaan tersendiri ketika beralih dari rutinitas yang mengalami tekanan atau ketika mendapatkan hal-hal yang kurang baik dari lingkungan pekerjaan. Jika kita mampu mengasah dan memperkuat value melalui kemampuan yang dimiliki, hal ini akan memberikan penguat kepercayaan diri dan anti goyah. Karena dengan demikian, value akan mematahkan anggapan rendah seseorang di lingkungan kerja. Sehingga kita tetap merasa berharga walau masalah dalam pekerjaan tidak ada habisnya.

Bahkan, value diri akan memberikan dorongan kepada kita untuk selalu melakukan hal yang terbaik walau tidak suka dengan pekerjaan yang dijalani. Value ini bisa didapatkan dari karya yang kita miliki atau kemampuan dan pengaruh kuat yang kita miliki.

Berinteraksi dengan circle yang berbeda, ada kalanya saat berada di lingkungan kerja, terasa menjemukan bahkan melihat sudut meja tempat berkutat dengan pekerjaan walau di rumah, lalu hanya membalas chat di whatsapp dari teman kerja seharian, belum lagi meeting marathon rasanya terbelenggu dan ingin bernapas di luar.

Saat libur atau ketika ada waktu luang, dapat dimanfaatkan untuk ngobrol santai dengan teman lama, teman komunitas atau teman-teman dari lingkungan lain. Sehingga bisa teralihkan atmosfer kerja ke hal-hal yang lebih santai dan lebih personal. Ketika berkumpul dengan orang-orang yang dekat dan satu frekuensi biasanya akan memberikan ekspresi lepas. Pernah kan saat kebersamaan kita bisa tertawa enak terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata atau bisa becanda tanpa ada yang tersinggung? Ini tentu saja penambah imun yang efektif. Kalau di masa pandemi pastinya ngobrol via online pun tetap asyik.

Quality time, Gunakan waktu libur untuk quality time bersama keluarga karena walaupun WFH, tetap saja anggota keluarga lain ada kalanya terabaikan dengan fokusnya kita pada pekerjaan. Raga berdekatan namun ruh entah di mana. Lalu, tak ada obrolan yang mendalam walau setiap hari bertemu.Saat-saat inilah bisa dimanfaatkan untuk ngobrol banyak hal dari hati dengan kesadaran utuh dan kehadiran yang penuh.

Sering mengalami ketika anak bertanya sesuatu, saya sering mengangguk saja atau menjawab dengan gerakan tangan atau kepala mengangguk dan menggeleng saja karena sedang fokus di laptop atau di whatsapp group kantor. Tentu ini melukai perasaan anak atau anggota keluarga lainnya. Oleh karena itu, harus ada jam-jam quality time yang dibangun.

Manfaat Istirahat Cukup

Berpikir jernih adalah hasil dari memperlakukan tubuh dengan pola hidup sehat seimbang. Antara pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Dengan adanya ruang dalam jiwa dan pikiran, akan memberikan energi yang cukup bagi diri untuk beraktivitas rutin yang terkendali dan terkontrol. Semumet apapun pekerjaan kita, akan tetap mempunyai pemikiran jernih jika tubuh diberi kesempatan untuk rileks dan tidak melakukan apapun sesaat.

Sesederhana ketika tidur pulas, di tengah kesibukan yang menggunung, jika diberikan waktu 10 menit saja untuk tidur berkualitas maka energinya akan segar kembali setelahnya.

Ide pun akan lebih berkembang karena di saat tubuh dan pikiran rileks ada banyak cadangan energi untuk kinerja otak dalam merancang sesuatu. Menjadikan diri lebih produktif dan lebih semangat. Jika sudah semangat maka motivasi pun meningkat.

Untuk perusahaan, jika memberikan ritme kerja yang wajar dan sesuai porsi standar kerja, apresiasi pegawai terhadap perusahaan akan lebih loyal dan berdedikasi tinggi. Karena merasa dimanusiakan diberi kesempatan untuk selalu berkembang dengan memberikan ruang pada diri dan jiwa pegawainya untuk menjadi dirinya sendiri dan beraktualisasi sesuai dengan kepribadiannya pada saat di luar jam kerja.

Basmi Berbagai Virus Dalam Gedung Melalui Signify UV-C Disinfection Devices

Dok: Signify

 

Tahun lalu, awal dinyatakan pandemi covid-19 saya merasa bahwa tahun ini akan lebih baik kondisinya. Optimis dan yakin bahwa virus ini akan segera pergi. Namun kenyataannya virus mematikan itu masih saja betah malahan bertambah ganas dan penularan varian delta membuat banyak orang ketar ketir untuk menghindarinya. Namun virus itu pasukannya lebih cepat memperbanyak diri bahkan cepat sekali menghinggapi siapa saja yang berpapasan.

Belajar di TRYOUT.ID Agar Lulus Uji Kompetensi Profesi dan Tes TOEFL

 

Pic by: pixabay

Flashback ke masa 15 tahun ke belakang, di mana nilai akademis menjadi patokan seseorang untuk dapat bekerja di perusahaan bonafid dan bergengsi atau multinasional. Sementara yang nilai akademisnya pas pasan namun mempunyai softskills kece masih terpinggirkan dengan alasan nilai akademisnya kecil. Tidak heran jika dalam atmosfer pekerjaan yang hanya didominasi pegawai dengan acuan nilai akademis menjadi monoton, kurang daya juang dan minim kreativitas. Mengingat tanggung jawab dan proses berpikirnya dibatasi dengan anggapan bahwa dirinya sudah cukup kapasitasnya dengan berbekal nilai akademis tinggi. Sehingga berpengaruh terhadap pola pikirnya dalam berkontribusi.

Yuk! Selamatkan Lingkungan Dengan Bijak Berplastik

Photo By: Pixabay

Siapa yang tidak punya barang terbuat dari plastik di rumahnya? Mulai barang rumah tangga, peralatan kerja hingga pakaian dan sepatu ada yang terbuat dari plastik. Peralatan dari plastik selain bikin awet juga banyak modelnya yang menarik dengan warna-warna yang cerah. Begitu pula untuk kemasan makanan dan minuman, dengan pembungkus plastik lebih praktis dan membungkus dengan sempurna.

Cintai Diri Sendiri Agar Ringan Menjalani Hari

 

Pic by: Pixabay

Jika kita masih punya inner child, saat ada pemicu, bisa ngamuk lagi inner child kita kalau sampai ada pemicunya. Saya mau ngobrolin apa ini? Simak dulu yuk sampai habis. Jangan lupa kopi atau the ya.

Pernah gak? Saat kita melihat kehidupan orang lain yang menurut kita lebih baik lalu menimbulkan insecure? Merasa diri nobody lalu mengucapkan selamat dan bilang turut bahagia namun hati kecil merasakan ada yang menganjal karena terluka dan merasa tidak seberuntung mereka yang berhasil dan terlihat sempurna? Kalau saya jujur pernah. Kondisi ini kalau dibiarkan bisa memicu kadar sifat kompetitif yang tidak terkontrol dan berdampak buruk pada kondisi mental.