Adab Saat Ikut Workshop Atau Belajar

Foto : Pixabay


“Teh Ani udah sering jadi pembicara kok masih ikut-ikut kelas menulis?” 

“Acara ini narasumbernya kan dulu yang pernah belajar dari Teh Ani, kok Teh Ani ikutan?”

Dua pertanyaan itu kerap saya dapatkan saat saya mengikuti sesi workshop. Bukannya saya senang atau bangga dengan pertanyaan yang ditujukan seperti itu. Justru saya merasa sedih, bagaimana bisa? Sesama blogger pemahamannya terhadap seorang pembicara hanya sebatas senior dan junior? Juga sebatas siapa guru dan siapa murid?

Padahal, urusan belajar tak ada sekat atau kasta, cara seseorang menyerap ilmu akan selalu punya ciri khas juga keunggulan masing-masing. Setiap personal itu unik. Bisa jadi yang pernah belajar pada saya mampu mengejar sehingga dapat menjajari mentornya, bahkan melampaui. Karena konsistensi yang dijalankan dan ketekunannya. Dari hasil ketekunannya itu, bisa jadi mereka mempunyai strategi atau menciptakan ilmu baru yang dapat bermanfaat untuk orang banyak. Dan hal itu dapat dipelajari oleh saya.

Seperti Petronas, perusahaan Migas Malaysia yang dulu belajar dari Pertamina, namun kini Petronal malah yang lebih unggul dan maju. Artinya, tak selamanya guru lebih unggul dari murid karena setelah murid belajar, pastinya melakukan banyak inovasi, mengasah skill dan melakukan evolusi karyanya. Inilah saatnya guru kembali belajar kepada murid.

Saat Murid Lebih Unggul

Saya pribadi, ketika mendapati peserta workshop banyak yang berhasil, saya justru tidak merasa bahwa ini ancaman dan tidak punya pikiran lahan saya akan terambil. Justru pikiran-pikiran seperti ini datang dari teman-teman dekat saya yang memberi tahu bahwa saya tak perlu memberi ilmu yang dimiliki 100% kepada peserta workshop. Ini tentunya tak sejalan dengan visi saya. Walau saya tetap hargai perhatian teman-teman saya ini. Tandanya mereka sayang sama saya.

Ketika mendapati peserta workshop saya lebih unggu sekarang, saya malah punya sensasi kebanggan tersendiri. Berarti ilmu yang sudah saya bagikan bermanfaat secara langsung sehingga mereka benar-benar mengaplikasikannya dengan baik dan berhasil memperoleh banyak benefit baik secara moral maupun materi.

Saya ibarat seorang ibu yang senang melihat anak-anaknya berhasil tanpa ingin diberikan timbal balik. Dan ini memberikan efek rasa syukur dan bahagia yang tak terkira. Sehingga alhamdulillah saya selalu diberikan kesehatan jiwa raga dari Allah SWT.

Soal timbal balik, jangan sampai kita berharap minta. Jangan sampai! Karena apa yang telah kita berikan, in syaa Allah akan dibalas dengan sesuatu yang lebih tinggi nilainya dari Allah SWT suatu saat dari arah yang tak disangka-sangka. Sekalipun demikian, jangan pernah elakukan suatu kebaikan karena ingin dibalas sesuatu jika ingin berkah. Caranya adalah, niatkan hanya untuk memohon Ridho Nya.  

Manfaat Saat Mengosongkan Gelas Ketika Belajar Sesuatu

Belajar langsung di sebuah workshop atau belajar melalui tutorial di platform online gelas yang sudah kita punyai atau kemampuan-kemampuan yang kita miliki jangan sampai dijadikan pembanding atau mengkritik terus walau dalam hati karena saat menyerapnya tak aka nada yang didapat. Bahkan ilmu-ilmu baru yang tak pernah terpikirkan juga akan terlewat karena kita sibuk sendiri membandingkan bahkan protes dalam hati.

Manfaat saat mengosongkan gelas ketika belajar sebagai berikut:

  • Mendapat insight yang tak pernah terpikirkan.
  • Mengetahui strategi lain yang diajarkan atau jadi tahu jalan ke luar sebuah permasalahan yang selama ini belum didapatkan.
  • Dapat melengkapi keilmuan yang dimiliki, misalnya saat saya mengetahui lebih banyak soal strategi personal branding blog, dari hasil workshop dapat ilmu secara teknis. Ini contoh ya.
  • Dapat mengevaluasi keilmuan yang dimiliki tentang langkah apa yang perlu di-improve
  • Dengan demikian, saya dapat gelas-gelas baru yang terisi kembali dan membuat keilmuan yang dimiliki bertambah dan makin kaya.

Kalau sudah niat ikut belajar, artinya kita siap untuk mencernanya dengan baik dan ada kebutuhan atas apa yang diniatkan saat mendaftar acara tersebut. Jadi, jika tak ada niat untuk belajar atau sekadar kepo mendingan gak usah ikutan. Jika dirasa sharing tersebut tak dibutuhkan, mending tak usah daftar sekalian dari pada sepanjang workshop merutuk terus karena tidak sesuai ekspektasi.      

Do’s And Don’ts Saat Belajar

Terkadang ada saja peserta yang mencari-cari kesalahan pembicara dan mempermalukan pembicara yang sedang sharing dengan interupsinya. Ini baik untuk meluruskan namun harus lihat-lihat dulu kapan interupsi itu sebaiknya dilakukan. Tidak menyela saat pembicara tengah berbicara. Beri kesempata pembicara untuk menyamapaikan pesannya hingga selesai dulu. Karena apa yang dibicarakan di awal pasti ada benang merah yang akan disambungkan.

Setelah selesai dan ddipersilahkan untuk tanya jawab serta diskusi, baru boleh mengutarakan hal-hal yang tidak satu suara atau yang dirasa tidak pas tersebut dengan bahasa yang merenah dan tidak memojokkan pembicara. Dengan cara ini akan lebih diapresiasi oleh peserta lainnya. Jika menyampaikannya dengan santun, bukan hal yang mustahil jika para peserta yang hadir pada saat itu suatu saat mengundang untuk sharing.

Lain halnya jika interupsi di tengah sharing saat belum dipersilahkan, selain mengganggu konsentrasi dan mood pembicara, peserta lain pun bukannya simpati tapi malah merasa sebal karena terkesan sok pintar walaupun kenyataannya memang pintar tetapi saat tidak menerapkan etika, kepintarannya akan pudar.

Jika sesi tanya jawab atau diskusi sudah dibuka, saat tak ada yang mengajukan pertanyaan, ada baiknya kita berinisiatif bertanya supaya pembicara merasa dianggap da nada feedback dari peserta workshop. Jadi pembicara merasa dihargai karena artinya para peserta menyimak apa yang disampaikannya.

Jadi belajarlah ilmu yang dibutuhkan pada orang yang tepat dengan selalu mengosongkan gelas yang miliki agar gelas-gelas berikutnya dapat memberikan pengayaan dan kapasitas yang lebih kuat. Selamat belajar! 

1 comment