Buku Diary Menyimpan Peluang Baru dari Catatan Lama


Halaman-halaman buku diary saya lebih sering basah oleh emosi yang sendu dari pada tawa yang meledak atau histeris senang atas suatu pencapaian. Isi diary saya didominasi curhatan tentang rasa kecewa, gagal, patah hati, rasa lelah, hingga overthinking yang tak kunjung reda. Seolah-olah diary menjadi tempat pelarian paling aman ketika hidup terasa berat. Diary seperti ruang sunyi yang setia menampung segala keluh kesah tanpa interupsi dan tanpa penghakiman.

Entah mengapa, momen bahagia justru terasa sulit diterjemahkan ke dalam tulisan. Saat semuanya berjalan baik, hati terasa ringan dan waktu berlalu begitu cepat, sehingga tak ada dorongan kuat untuk berhenti dan merekamnya. Moment kebahagiaan seperti cukup dirayakan dalam momen itu sendiri, tanpa perlu didokumentasikan panjang lebar. Berbeda dengan saat mellow, jatuh, atau terpuruk; ada energi yang meluap dan butuh disalurkan. Emosi yang penuh justru terasa seperti “amunisi” yang memudahkan tangan untuk terus bergerak menulis.

Itulah fungsi personal diary bagi saya: bukan hanya sebagai arsip cerita indah, melainkan sebagai ruang pemulihan. Menulis saat terpuruk membantu saya mengurai benang kusut di kepala, memberi nama pada perasaan yang sebelumnya samar, dan perlahan menemukan titik terang. Dari sana saya belajar, bahwa meski halaman-halamannya dipenuhi cerita yang bukan tentang kebahagiaan, justru proses menulislah yang diam-diam mengantar saya kembali menuju rasa lega dan lebih utuh.

Mengapa saat jatuh terasa berenergi menulis?

Buat tipe yang gak pernah curhat ke orang lain, tentu menuliskannya dalam buku diary menjadi media penampung semua perasaan down itu yang kemudian dapat diuraikan dalam kalimat-kalimat hasil refleksi diri, afirmasi, kontemplasi, menelaah, hingga introspeksi diri tanpa distraksi.

Bandingkan, saat kita curhat dengan orang lain, kita akan diinterupsi dengan kata-kata normatif yang sebenarnya tidak kita butuhkan saat itu, atau kita tiba-tiba di puk puk tanda menganggap kita lemah atas kejadian yang sedang menimpa, padahal kita hanya butuh didengarkan saja dengan penuh empati dan penerimaan kondisi, bukan?

Apa saja yang dituliskan saat emosi memenuhi jiwa?

Sebelum menulis di buku diary, saya filter dulu di kertas lain untuk menumpahkan kata-kata tidak patut seperti umpatan, kosa kata kebun binatang, dan sejenisnya. Setelah puas, kertas tersebut saya robek kecil-kecil lalu dibuang. Di fase ini saya sudah lumayan tenang sambil lap air mata (dan ingus)

Lalu saya buat teh hangat, menyalakan aromaterapi, dan memulai jurnaling di buku diary, saya tuliskan semua hal yang bikin saya jatuh, menyebut orang-orang yang memang harus disebut. Seperti membuat sebuah kronologis kejadian sambil menguraikan semua yang menjadi ganjalan. Saat menulis harus benar-benar dirasakan, lalu dipahami apa yang terjadi. Bagaimana seharusnya saya menyikapi masalah itu, apa hak saya? Apa yang harus saya perbaiki, dan langkah apa yang harus dilakukan. Semua dituliskan dengan rinci.

Biasanya, menulis setelah agak tenang dan ada sedikit emosi, sering terdorong untuk mencari jalan keluar yang lebih cepat. Dari jalan inilah saya biasanya bermunculan ide dan terbayang siapa saja support system yang bisa menjadi penolong atau sedikitnya bisa membantu dalam masa kritis tersebut.

Setelah plong hati, selanjutnya apa?

Setelah hati terasa lebih lega, ucapkan alhamdulillah dan terima kasih pada diri sendiri karena sudah memilih mengendalikan emosi lewat buku diary, bukan meluapkannya di tempat yang keliru. Menulis menjadi cara sederhana namun bermakna untuk merawat diri.

Tutup kembali buku diary dengan tenang, lalu lanjutkan aktivitas seperti biasa. Perlahan, energi yang sempat terkuras akan kembali pulih, pikiran terasa lebih jernih, dan perasaan pun lebih seimbang untuk menjalani hari.

Dapat peluang saat membaca ulang buku diary

Wah wah, gimana konsepnya dari buku diary memunculkan peluang? Tunggu dulu, ini bukan mendulang peluang seperti di medsos atau monetisasi artikel blog ya. Kita runut kembali ke sub judul yang kedua yang menjelaskan apa saja tulisan refleksi yang telah dituangkan dalam buku diary tersebut. Dari poin-poin refleksi diri dan action plan yang tertera di sana seolah minta di follow up, apalagi saat beberapa nama support system disebutkan, artinya memberikan jalan untuk saya tindak lanjuti.

Konkretnya, lebih kurang lima bulan lalu, saya follow up beberapa insight dari buku diary saya, tanpa ragu saya email kontaknya dan memberikan proposal, ternyata dayung bersambut diajak meeting  dan project tersebut alhamdulillah berjalan.

Tip journaling yang efektif

Seperti yang sudah saya jelaskan di sub judul kedua, bahwa dalam journaling, prosesnya bukan sekadar melampiaskan isi hati, namun ada refleksi diri, afirmasi, dan introspeksi diri. Setelah jurnaling harus ada hasil yang lebih baik dampaknya ke diri kita. Bukan sebaliknya.

Berikut rangkumannya tip journaling yang menstimulasi berbagai peluang:

1. Sebelum journaling, upayakan tenangkan diri dulu sampai siap berpikir jernih, di saringan pertama, ungkapkan dulu semua isi hati yang mengganjal dalam media kertas atau secara verbal.

2. Setelah agak tenang, baru mulai menulis.

3. Boleh ditambahkan booster aromaterapi jika kondisi emosi sangat dahsyat.

4. Tuliskan dengan penuh refleksi diri

5. Jika ada sesuatu yang tiba-tiba muncul, seperti ide, pemikiran, dan banyak hal yang bisa dituliskan, tidak apa-apa langsung diselipkan di buku diary tersebut agar tidak menguap moment-nya.

6. Perlu dibaca ulang sebulan sekali.

Membaca ulang buku diary secara rutin bukan sekadar bernostalgia dengan tulisan lama, tetapi menjadi proses refleksi yang bermakna. Dari catatan yang pernah dibuat, kita bisa melihat pola pikir, emosi, serta keputusan yang pernah diambil. Di sanalah kita belajar mengenali kesalahan yang berulang, memahami pemicunya, dan menyadari bagaimana seharusnya kita bersikap ke depan. Diary berfungsi seperti cermin yang jujur. Buku diary merekam tanpa menghakimi, sehingga membantu kita bertumbuh dengan lebih sadar dan terarah.

Selain itu, hasil journaling juga dapat menjadi pengingat resolusi dan target yang sempat direncanakan. Sering kali kita membuat daftar tujuan dengan penuh semangat, namun perlahan terlupakan karena kesibukan sehari-hari. Dengan membaca ulang catatan tersebut, kita bisa mengevaluasi mana resolusi yang sudah berjalan, mana yang tertunda, serta apa saja yang perlu ditindaklanjuti. Proses ini membantu kita menjaga komitmen terhadap diri sendiri dan memastikan setiap rencana tidak berhenti hanya sebagai wacana.

Yang tak kalah penting, proses journaling sebaiknya dilakukan tanpa terburu-buru. Luangkan waktu khusus di suasana yang tenang, jauh dari distraksi, agar pikiran dan emosi benar-benar terhubung dengan apa yang dituliskan. Ketika menulis dalam keadaan santai, energi akan terasa lebih utuh dan refleksi menjadi lebih mendalam. Dampaknya pun lebih terasa, bukan sekadar menuangkan isi hati, tetapi juga memulihkan energi, memperjelas arah, dan memperkuat kesadaran diri.

No comments