Ada yang pernah membaca serial “Laura Ingalls Wilder?” Beberapa orang yang membaca serial tersebut akan terinspirasi dengan kehangatan keluarga Laura Ingalls yang hidup sederhana namun memiliki kekayaan batin dan kualitas hidup yang sangat berharga. Bagaimana tidak? Keluarga Ingalls yang tinggal di rumah mungil berdinding batu dan beratap jerami ini, tak pernah kekurangan suatu apapun.
Ayah dan ibu Laura selalu menerapkan kedisiplinan tinggi terhadap anak-anaknya, yaitu Laura, Mary, dan Cherry. Misalnya, sedingin-dinginnya hawa di sekitar rumahnya, orang tua Laura tak pernah mengizinkan semua anaknya tidur di ruang tamu dekat perapian. Mereka tetap harus tidur di kamar masing-masing dengan penghangat berupa besi yang dipanaskan dibalut kain selimut untuk dipeluk hingga pagi. Begitu pula saat di luar rumah, Laura dan saudara-saudaranya selalu diajarkan untuk menjadi diri sendiri, tidak menginginkan sesuatu yang di luar kemampuan keluarganya, walaupun Laura dan saudara-saudaranya kerap diolok-olok oleh teman-temannya yang dari keluarga berada.Dari serial buku tersebut, hingga saat ini, saya merasa selalu mendapatkan pengingat bahwa hidup itu bukan perkara “kita punya apa” agar bisa Bahagia. Namun soal bagaimana mengelola dan mensyukuri yang ada.
Gimana cara membaca buku yang tuntas?
Membaca buku yang tuntas, bukan sekadar selesai membaca dari halaman awal hingga akhir. Membaca buku secara tuntas bagi saya adalah proses membaca yang menyisakan makna dan kesan mendalam dari bacaan tersebut. Misalnya, konten yang ada pada buku tersebut bisa memberikan inspirasi dan juga dapat mengubah karakter seseorang dengan lebih nyata progressnya. Karena dari buku, dapat diserap berbagai pelajaran secara berulang dengan proses kenyamanan yang baik.
Tidak apa-apa lambat menyelesaikan, asal tuntas dalam mencernanya. Supaya isi buku menempel dalam benak, selalu sediakan stabillo, spidol kecil, pensil atau penanda apapun, agar poin-poin penting yang sedang dibaca dapat digarisbawahi. Dengan catatan, buku tersebut harus milik pribadi ya. Kalau buku milik orang lain jangan dicoret-coret.
Membaca buku secara berulang juga sangat disarankan, terutama buku-buku non-fiksi yang isinya berhubungan langsung dengan kebutuhan wawasan dan ilmu sehari-hari. Bertujuan sebagai pengingat dan refreshment.
Dari Buku: Petualangan sekaligus penantian ke destinasi Impian
Menyelami isi buku, seperti sedang menelusuri tempat-tempat yang belum terjamah, apalagi saat membaca buku-buku biografi, Sejarah, dan traveling. Pernah saya mengalami kejadian yang termotivasi dari Novel “Aruna dan Lidahnya” karya Laksmi Pamuntjak, yang membagikan kisah pegawai NGO untuk penelitian Flu Burung sambil kulineran di beberapa daerah, selesai membaca novel tersebut, saya ingin sekali merasakan pekerjaan NGO dan keliling Indonesia seperti yang diceritakan penulis novel tersebut dalam “Aruna dan Lidahnya” beberapa bulan kemudian, semesta mendukung, alhamdulillah saya mendapatkan pekerjaan serupa tapi tak sama, dari sebuah NGO luar negeri. Merasakan tempat 10 kota di seluruh Indonesia dengan tugas yang berimbang antara kewajiban dan benefitnya.
Tentu saja semua itu bukan simsalabim namun sebuah ikhtiar disertai doa, maka semesta pun mendukung.
Lima Buku 2026 yang harus tuntas
Al Qur’an
Kitab suci Al Qur’an menjadi list tuntas adalah dalam konteks memaknai isinya, jangan sampai khatam hanya untuk selesai dibaca, namun harus diresapi makna dan artinya agar dapat diamalkan dengan pemahaman yang mendalam. Kalau kitab suci harus menjadi agenda rutin untuk dibaca.
Dalam Dekapan Zaman – Memoar Pegiat Harmoni Bumi
Memoar yang berisi perjalanan penulisnya Ibu Amanda Katili, Ph.D dalam menyelami berbagai kegiatan dalam upaya menjaga alam yang dikemas dengan penulisan storytelling dengan riset akademik, tentu memberikan nilai tambah. Saya baru membaca dari mulai prakata, testimoni para pembacanya saja sudah seru, tinggal menuntaskan konten utamanya.
Wastra, Cerita, dan Identitas – Etnografi Komunikasi Tenun Ikat Sumba Timur
Buku yang diadaptasi dari Disertasi Mba Laely Indah Lestari ini, memantik semangat saya untuk lanjut S3, aamiin! Doakan ya manteman supaya kesampaian! Jadi, selain untuk afirmasi diri, saya pun akan betah membacanya karena Mba Laely membuat pembukanya aja sudah seru, apalagi mengikuti perjalanan penelitiannya di Sumba Timur tentang wastra ini. Pasti banyak banget hal menarik lebih dari sekadar wastra. Namun memberikan komunikasi bermakna juga melalui sebuah karya bernilai ini.
Welcome To The Hyunam-Dong Book Shop
Buku karya Hwang Bo-reum ini bikin saya betah membacanya, karena dari awal menunjukkan suasana took buku yang juga menyediakan kafe dengan balutan persahabatan antara pemilik toko buku dan barista. Keseruan baru saya salami beberapa halaman saja karena banyak distraksi dan pekerjaan prioritas. Padahal, udah membayangkan lanjutannya pasti seru! Namun lagi-lagi, prioritas gak bisa dikalahkan sama baca buku ini. Maka dari itu, 2026 harus tuntas tas!
Rumah Kaca – Pamoedya Ananta Toer
Dalam setahun, saya menargetkan untuk membaca satu karya sastrawan besar seperti Pramoedya Ananta Toer, Erwin Pane, dan lain-lain. Perlu banget! Karena saya perlu booster untuk memperkaya perbendaharaan kata yang beragam, termasuk dari kata-kata klasik. Inspirasi dari karya sastrawan tentu saja akan memberikan makna mendalam yang unik, di era Chat GPT dan sejenisnya, harus menggali sisi kreatif yang lebih dominan dan tak terduplikasi tentunya kan?
Rumah Kaca sudah saya beli sejak 2019 namun segel plastiknya baru saya buka di 2025 dan baru mau say abaca di 2026 ini. Sungguh terlalu ya? Tapi gak apa-apa, yang penting akhirnya dibaca juga dan ada niat buat ditamatkan.
Sun Tzu - The Art Of War
Serial keluaran Norris Classics ini berisi 13 Bab yang membahas soal prinsip strategi, kepemimpinan, pengambilan Keputusan, dan taktik menghadapi konflik. Walaupun The Art Of War merupakan buku strategi perang klasik dari Tiongkok kuno yang ditulis sekitar abad ke-5 Sebelum Masehi, dikaitkan dengan Sun Tzu, karya ini menjadi rujukan utama dalam tradisi militer Tiongkok hingga sekarang.
Mengapa saya harus menyelesaikan dengan tuntas buku ini? Tentu saja karena buku ini masih relevan hingga era kekinian, yang mana semua strategi perang ala Tiongkok ini penuh cita rasa seni sebagai referensi dalam dunia bisnis, manajemen, hingga pengembangan kepribadian.
Itu dia lima buku yang harus saya tuntaskan secara makna dan kualitas penalaran. Mudah-mudahan bisa melampaui target, karena masih ada beberapa buku yang masih tersegel dengan rapi dan meronta untuk dibuka serta dibaca.







No comments