![]() |
| Bersama Kepala Adat dan Pengurus Organisasi PEKKA |
Komunitas ISB (Indonesian Social Blogpreneur) punya program baru bernama #ISBBudaya. Melalui program ini, setiap member bebas berbagi cerita tentang kebiasaan, tradisi, atau budaya dari berbagai daerah di Indonesia yang pernah mereka kenal atau alami. Tulisan tersebut dipublikasikan di blog masing-masing, kemudian link-nya dibagikan di grup WhatsApp komunitas dan media sosial.
Sederhana saja tujuannya. Kami ingin saling mengenalkan kekayaan budaya Indonesia dengan cara yang ringan, melalui cerita dari pengalaman langsung para member, tetapi tetap dilengkapi sumber agar informasi yang dibagikan bisa dipertanggungjawabkan.
Nah, program ini membuat saya teringat sebuah pengalaman yang terjadi lebih dari satu dekade lalu. Tepatnya pada Mei 2015. Sudah sebelas tahun berlalu, tetapi kenangannya masih melekat sampai sekarang. Foto-fotonya pun masih tersimpan dengan baik.
Saat itu saya mendapat tugas melakukan Monitoring and Evaluation program Australian Aid melalui MAMPU (Maju Perempuan Indonesia) di sejumlah daerah di Indonesia. Perjalanan tersebut membawa saya ke Ngawi, Yogyakarta, Semarang, Wonosobo, Lembata di NTT, Lombok, Lampung, Bengkulu, Jambi, hingga Gresik.
Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika saya bertugas di Lembata, Nusa Tenggara Timur. Saat itu saya melakukan monitoring program organisasi PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga). Saya bertugas sebagai penulis, sementara Hasan Tribuana menjadi fotografer.
Yang tidak pernah kami bayangkan, kedatangan kami ternyata disambut dengan sebuah upacara adat penyambutan tamu yang dikenal sebagai Hupeng Hode.
Surprise banget!
Terus terang, saya sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan sambutan seperti itu. Rasanya seperti menyambut tamu penting. Saya yang awalnya datang dengan pakaian kerja biasa untuk wawancara dan peliputan, tiba-tiba berada di tengah masyarakat yang sudah mempersiapkan penyambutan adat lengkap dengan pakaian tradisional mereka.
Menurut salah satu kepala adat dan pengurus PEKKA di sana, sambutan tersebut diberikan karena kami dianggap turut menjadi jembatan dalam pelaksanaan program Australian Aid yang memberikan manfaat bagi masyarakat setempat. Hupeng Hode juga biasa dilakukan untuk menyambut tamu-tamu yang dianggap membawa manfaat atau memberikan dampak baik bagi desa.
Saya dan Hasan tentu saja merasa tersanjung. Bukan karena merasa seperti pejabat, tetapi karena kami bisa merasakan bagaimana masyarakat menyambut seseorang dengan cara yang begitu penuh penghormatan dan kehangatan.
![]() |
| Tak lepas untuk tersenyum berbunga-bunga |
Disambut dari gerbang desa
Prosesi dimulai sejak kami menuju gerbang Desa Lamawara. Kami diantar oleh beberapa panitia menuju lokasi penyambutan.
Begitu sampai, saya langsung dibuat terpana.
Masyarakat sudah berkumpul. Para perempuan tampil cantik dengan busana tradisional, sementara laki-laki dan anak-anak juga mengenakan pakaian adat. Ada janur, musik, dan suasana yang benar-benar berbeda dari kegiatan monitoring yang biasanya saya jalani.
Sementara itu, saya dan Hasan masih mengenakan pakaian kasual yang biasa kami pakai ketika bekerja.Saya sampai merasa agak salah kostum!
Untungnya, Kak Dette, salah satu pengurus PEKKA, kemudian meminjamkan kain kepada saya untuk dikenakan. Setidaknya saya jadi sedikit lebih pantas berada di tengah-tengah suasana adat tersebut.
Melihat begitu banyak orang berkumpul untuk menyambut kami, hati saya langsung tersentuh. Ada rasa haru sekaligus rasa tidak enak karena merasa begitu dihargai oleh orang-orang yang baru saja kami temui.
Kemudian prosesi Hupeng Hode pun dimulai dengan enam rangkaian penyambutan
Pengguntingan pita
Prosesi diawali dengan pengguntingan pita sebagai simbol bahwa Desa Lamawara terbuka dan menerima kedatangan kami sebagai tamu.
Sederhana, tetapi bagi saya saat itu terasa sangat istimewa. Kami bukan sekadar datang, masuk desa, melakukan wawancara, lalu pulang. Kedatangan kami diterima melalui sebuah prosesi yang dipersiapkan secara khusus.
Seremonial adat melalui syair
Setelah itu, dilakukan seremonial adat penyambutan melalui syair yang disampaikan oleh para ketua dan pengurus adat.
Saya tidak lagi mengingat seluruh rangkaian kata yang disampaikan saat itu, tetapi saya masih ingat suasananya. Syair tersebut menjadi bagian penting dari prosesi penyambutan dan membawa pesan tentang hubungan masyarakat, leluhur, serta kedatangan tamu ke dalam lingkungan adat Lamawara.
Bagi saya, ini bagian yang paling terasa berbeda. Penyambutan bukan sekadar acara seremonial, tetapi seperti mengajak kami masuk dan menjadi bagian dari ruang sosial mereka, setidaknya untuk sesaat.
Sirih pinang dan cerutu
![]() |
| Saya menyicipi pinang, Hasan mengisap cerutu yang diberikan para Ina penyambut |
Kemudian kami menerima sirih dan pinang sebagai bentuk penghormatan kepada tamu. Untuk tamu laki-laki, diberikan pula rokok atau cerutu yang dinyalakan.
Saat itu saya belajar bahwa dalam penyambutan adat, menerima pemberian tersebut merupakan bagian dari penghormatan kepada tuan rumah. Tidak harus menghabiskannya, terutama bagi tamu yang memang tidak biasa mengonsumsi sirih pinang atau rokok. Mencicipinya pun sudah menjadi bentuk penghargaan atas pemberian tersebut.
Pengalungan kain tenun
![]() |
| Senangnya diberikan kain tenun dari Kepala Adat |
Berikutnya kami mendapatkan kain tenun NTT sebagai bentuk penghormatan sekaligus kenang-kenangan.
Kain tersebut bukan sekadar oleh-oleh. Ada cerita, keterampilan, identitas, dan kebanggaan masyarakat yang melekat di dalamnya.
Sampai sekarang, setiap kali melihat kain itu, saya langsung teringat pada hari ketika saya dan Hasan datang sebagai orang luar, tetapi diterima dengan begitu hangat oleh masyarakat Lamawara.
Diarak menuju tempat ritual adat
![]() |
| Adik-adik yang menari ini mungkin sekarang sudah pada kuliah ya? Hehe |
Setelah rangkaian penyambutan, kami kemudian diarak menuju tempat ritual adat. Perjalanan tersebut diiringi musik dan tarian tradisional.
Suasananya semakin meriah. Orang-orang bergerak bersama, musik dimainkan, dan kami berjalan di tengah masyarakat yang sejak awal sudah menunggu kedatangan kami.
Saya yang tadinya hanya datang untuk bekerja akhirnya seperti mendapatkan sebuah pengalaman budaya yang sama sekali tidak ada dalam agenda monitoring.
Jamuan makan
![]() |
| Sebagian makanan yang dihidangkan |
![]() |
| Kangen semua makanan ini |
Rangkaian penyambutan kemudian dilanjutkan dengan jamuan makan khas daerah.
Di sinilah suasananya menjadi lebih cair. Setelah seluruh rangkaian adat selesai, kami duduk dan berbincang bersama. Obrolannya tidak hanya tentang program PEKKA atau kegiatan Australian Aid, tetapi juga tentang kehidupan sehari-hari masyarakat di sana.
Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Selain menjalankan tugas monitoring, saya mencoba menyerap sebanyak mungkin cerita tentang kehidupan masyarakat, kebiasaan mereka, dan tentu saja budaya yang baru saja kami alami.
![]() |
| Mingle bareng Ina-Ina |
![]() |
| Menggali informasi sambil berbincang santai dengan kepala adat dan pengurusnya |
Sebuah sambutan yang tidak terlupakan
Kalau dipikir-pikir sekarang, perjalanan ke Lembata itu sebenarnya merupakan bagian dari pekerjaan. Saya datang untuk melakukan monitoring dan evaluasi, mewawancarai beberapa orang, mencatat informasi, dan mendokumentasikan kegiatan.
Tetapi masyarakat Lamawara memberikan sesuatu yang jauh lebih personal.
Mereka memberikan pengalaman tentang bagaimana sebuah desa menerima tamu dengan cara yang mereka yakini dan wariskan sebagai bagian dari adat. Kami datang sebagai penulis dan fotografer yang menjalankan tugas, tetapi pulang membawa cerita tentang keramahan, penghormatan, dan kekayaan budaya yang tidak mungkin saya dapatkan hanya dari membaca buku.
Foto-fotonya masih tersimpan. Kain tenunnya masih menjadi pengingat. Dan cerita tentang Hupeng Hode masih membuat saya tersenyum ketika mengingat betapa kagetnya saya saat pertama kali tahu bahwa kedatangan kami disambut sedemikian rupa.
Dulu saya hanya berpikir, “Wah, kok kami disambut seperti pejabat?” Sekarang saya melihatnya dengan cara yang berbeda.
Bukan soal siapa kami. Yang lebih bagaimana masyarakat Lamawara menghargai tamu dan menunjukkan rasa terima kasih kepada orang-orang yang mereka anggap telah ikut membawa manfaat bagi komunitas mereka.
Sebuah sambutan sederhana, tetapi meninggalkan kenangan yang bertahan lebih dari satu dekade.
![]() |
| NTT, lekas pulih atas bencana yang menimpa di 2026 ini, ku akan kembali suatu saat! |













No comments