Friday, 18 August 2017

Menggali Profesi Dubber di In House Training Blogger Reporter Indonesia

Praktek dialog 

Melanjutkan kegiatan rutin BRid (Blogger Reporter Indonesia) untuk memberikan pengayaan bagi member nya, 12 Agustus 2017 lalu diadakan #InHouseTrainingBrid2 di Wisma RIAT (Rumah Internet Atmanto) menghadirkan Narasumber Agus Nurhasan seorang Dubber profesional dan memiliki jam terbang tinggi. Kak Agus adalah pengisi suara Suneo (Film Doraemon) dari 2006-2008 dan pengisi suara Pria Bertopi Kuning.

Mengapa kali ini pelatihannya bukan tentang blogging? Karena BRid mempunyai misi agar member memperoleh pengetahuan luas di luar kegiatan blogging. Pengetahuan di luar blogging harus benar-benar didapat sebagai nilai tambah pada tulisan blog. Dalam beberapa hal, tulisan blog memerlukan kedalaman materi dan makna. Misalnya, menulis tentang teater berarti harus banyak membaca atau observasi tentang teater, menulis tentang musik, kuliner, jalan-jalan dan lain sebagainya pun sama. Maka selayaknya blogger bisa belajar apa saja, kapanpun dan di mana pun.

Mengawali acara, Hazmi Srondol memberikan sambutan. Menurutnya, profesi dubber bisa dilirik dan dipelajari sebagai profesi cadangan.

ki-ka: Founder BRid Hazmi Srondol, Ibu Amy Atmanto dan Kak Agus Nurhasan

“Kita tidak tahu ke depannya bagaimana dunia blogging maka kita tak cukup mengandalkan hanya pada satu skill saja. Apapun bisa dipelajari dengan ketekunan dan kemauan yang keras. Maka di #InHouseTrainingBRid2 ini, kami mengajak teman-teman untuk mempelajari profesi lain, yakni Dubber.

Dalam kesempatan ini, hadir Ibu Amy Atmanto, Pemimpin Yayasan RIAT sekaligus designer dan mantan presenter televisi. Ibu Amy memberikan wejangan kepada semua peserta dan memberi amanat yang menitikberatkan untuk mendalami karya jurnalistik dan sastra dengan baik.

“Kami dari Yayasan RIAT selalu menyambut baik kegiatan Blogger Reporter Indonesia sebagai wadah untuk menyalurkan minat terhadap jurnalistin dalam kapasitas sebagai blogger. Teruslah berkarya dan jangan lupa untuk selalu memperdalam karya jurnalistik yang lebih dalam. Bisa belajar pada ahlinya maupun otodidack.”

“Yayasan RIAT mewadahi edukasi dalam dunia literasi dan TIK bagi para penyandang tunanetra. Bagi siapapun kami membuka kerja sama dan kolaborasi untuk mencapai tujuan untuk kebaikan bersama.” Tambah Ibu Amy.

Selanjutnya acara inti pun dimulai. Pemberian materi oleh Kak Agus diawali talkshow bersama salah satu Admin BRid Hanisah Sukmawati. Hani adalah salah satu dubber binaan Kak Agus juga yang sudah menyalurkan karyanya di sebuah stasiun televisi. Jadi, obrolan narasumber dan moderator sangat nyambung dan hidup.

Hani dan Kak Agus

Kak Agus menjelaskan bahwa untuk menjadi seorang Dubber, memerlukan proses dan latihan yang terus menerus. Diperlukan suara yang power tapi bukan berarti berteriak. Intonasi, artikulasi, warna dan tempo suara harus diperhatikan. Untuk mendalaminya perlu latihan yang tidak singkat.

Seorang Dubber juga wajib punya kemampuan mengolah rasa. Diantaranya harus konsentrasi, mampu menghadirkan emosi dari peristiwa-peristiwa yang pernah dialami agar penjiwaan lebih dalam. Disamping itu, imajinasi dan observasi pun diperlukan.

Seorang Dubber juga harus cerdas, cekatan, jeli dan memiliki konsentrasi tinggi sebab dalam aktivitas dubbing harus melakukan empat hal dalam satu waktu. Melihat monitor, Mendengar suara asli melalui headphone, Membaca naskah dan Merasakan emosi dari tokoh yang diperankan. Empat hal ini tak bisa terpisahkan tentunya.

Latihan konsisten dan olah fisik penting untuk profesi Dubber tidak lupa juga soal kepercayaan diri.
“Selama ini jika bercanda dengan teman-teman ekspresinya selalu lepas dan tidak ada rasa malu. Dalam kegiatan dubbing seharusnya lebih ekspresif, tidak malu, tidak ditahan dan tidak takut mengeluarkan suara power.” Kata Kak Agus.

“Untuk melatih suara yang berenergi, bisa latihan napas sendiri di rumah dengan menghirup udara dari hidung sampai perut kembung lalu tahan sejenak dan keluarkan perlahan melalui mulut. Selain itu, olah raga rutin dan tidak banyak makan gorengan.” Kak Agus menambahkan.

Materi Kak Agus bukan hanya materi yang dibagikan, praktek memeragakan dialog dan latihan olah napas serta vokal. Kami semua senang dan benar-benar menyimak ulasan demi ulasan. Karena ini memang benar-benar baru bagi kami dan terlihat berpeluang bagus. Bahkan beberapa peserta ada yang ingin mendalami profesi ini dan berniat gabung di studio latihannya.

Banyak materi yang dibagikan Kak Agus, sampai peserta semua beyah dan banyak pertanyaan-pertanyaan berbobot. Namun keterbatasan waktu membuat sesi ini harus berakhir hingga matahari tenggelam.

Hari Minggu yang seharusnya menjadi waktu berkumpul bersama keluarga, peserta tetap semangat menggali ilmu dubbing.

Acara ini selain di-support oleh Yayasan RIAT juga didukung oleh Gogobli.com portal shopping online khusu produk kesehatan dan kecantikan yang berdiri sejak 2011 dan dipercaya sebagai portal yang mempunyai kredibilitas tinggi. Mengingat produk yang dijual di sana adalah merek-merek yang sudah baik pamornya di masyarakat dan terdaftar di Badan POM Indonesia. Jadi, komsumen Gogobli aman membeli kebutuhan penunjang kesehatan dan perawatan kecantikannya.


Bareng Kak Agus

Saya sebagai Co-Founder Blogger Reporter Indonesia, mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pendukung acara ini termasuk kehadiran teman-teman BRid yang telah memeriahkan acara serta membawa makanan untuk potluck sebagai tambahan hidangan yang telah disediakan.
Semoga acara ini bermanfaat dan semoga bertemu kembali di lain waktu. Di #InHouseTrainingBRid3 Aamiin.

Bagi yang berminat mengenal atau mendalami profesi Dubber bisa menghubungi Kak Agus di
Emai  : agus.nurhasan@yahoo.co.id   Facebook  :  Agus Nurhasan Twitter     :  @AgusNurhasan
Continue Reading...

Thursday, 17 August 2017

Benih Sawit Berkualitas Berdampak Pada Nasib dan Eksistensi Sawit Di Mata Dunia


Sudah hampir dua tahun saya mengikuti perkembangan kelapa sawit yang dibahas pada acara-acara talkshow dan workshop Kementerian Pertanian RI melalui Media Perkebunan. Awalnya saya menanggapi biasa saja dan sepintas lalu menyimak tanpa memikirkan nasib dan masa depannya.
Continue Reading...

Sunday, 13 August 2017

Luncurkan Aplikasi “My Home Credit”, Inovasi Home Credit Indonesia untuk Kemudahan dan Edukasi Pelanggan


Kebutuhan membeli barang elektronik, furnitur dan semua barang tahan lama semakin meningkat. Apa lagi banyaknya muncul keluarga baru yang memerlukan banyak barang untuk kepentingan sehari-hari. Misalnya, handphone, kursi, meja, barang elektronik dan lain-lain.
Continue Reading...

Sunday, 6 August 2017

FWD Hackathon 2017 Ajak Anak Muda Mengembangkan Asuransi Digital

Peluncuran FWD Hackathon 2017 oleh Rudi Kamdani, Poppy Savitri dan Andy Zain

Data OJK (Otoritas Jasa Keuangan) pada Triwulan pertama 2017 mencatat penetrasi Asuransi di Indonesia masih 2,7% masih jauh tertinggal dengan negara-negara tetangga yang rata-rata sudah mencapai 5%. 
Data ini tak dapat dipungkiri sebab ketika saya bertanya soal asuransi ke orang-orang terdekat, jawabannya “Ah saya sih cukup nabung aja, gak perlu pakai asuransi.” Atau ungkapan “Semua sudah diatur rezekinya, kalaupun terjadi sesuatu yang tak diinginkan mudah-mudahan ada rezekinya pada saat itu.” Lebih parahnya lagi, ada ungkapan “Ngapain susah-susah naruh uang di tempat lain, nanti saat membutuhkan malah susah ngambilnya.”

Ungkapan-ungkapan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih memandang sebelah mata terhadap asuransi. Mengingat ketakutan dan rasa ragu yang mendominasi pikiran sebagian orang tentang asuransi ini. Akibat pemberitaan di media atau testimoni ketidakpuasan sebagian orang terhadap asuransi ini di media sosial dan lain sebagainya.

Padahal asuransi jika dipahami dengan baik, akan menghasilkan berbagai benefit bagi kehidupan pemakainya. Misalnya, bisa menjadi payung sebelum hujan. Persediaan yang tak membuat kelimpungan di saat urgent, masalah perlindungan total dan pemenuhan kebutuhan sesuai anggaran. Asuransi juga bermanfaat sebagai patokan anggaran kebutuhan di masa mendatang setidaknya bisa tenang menghadapinya.

Maka dari itu, PT. FWD Life Indonesia (FWD Life) pada 4 Agustus 2017 di Kasablanka Hall Jakarta mengadakan sosialisasi agar asuransi dapat dipahami dengan mudah oleh masyarakat khususnya generasi muda. Umumnya generasi muda tidak peduli terhadap asuransi malah cenderung tidak mau tahu karena image nya “Asuransi itu urusan orang tua” dan prosesnya yang menurut mereka rumit, membuat mereka tak peduli dengan asuransi.

Padahal mengenal asuransi sejak dini adalah keuntungan besar bahkan memiliki asuransi sejak muda dapat memberikan nilai tambah yang tidak sedikit untuk nominal klaim atau perlindungannya.

Rudi Kamdani

Rudi Kamdani, Vice President FWD Life mendukung peningkatan penetrasi asuransi di Indonesia melalui pemanfaatan inovasi asuransi berbasis digital melalui FWD Hackathon 2017 yang acara puncaknya akan diselenggarakan pada 22-24 September 2017.

“FWD Life merasa ikut bertanggung jawab atas penetrasi asuransi yang belum meningkat ini, maka dari itu FWD Life berinisiatif mengadakan edukasi dan meningkatkan inovasi asuransi berbasis digital agar memudahkan siapapun untuk memperoleh asuransi dan dapat dipahami prosedurnya dengan lebih baik.” Kata Rudi.

“Gaya hidup masyarakat yang sudah lengket dengan teknologi tentu ini adalah suatu potensi untuk lebih mudah sosialisasikan asuransi dan peluang untuk FWD Life menggandeng generasi muda untuk sama-sama membangun asuransi di Indonesia supaya lebih maju.”

Saat ini, FWD Life telah menerapkan transaksi secara digital dan tidak memerlukan formulir kertas atau dokumen yang menghabiskan banyak lembaran. Tentu ini adalah upaya penghematan juga.

“FWD Life juga memudahkan para nasabahnya dalam hal konsultasi melalui fitur click to meet, bisa janjian di tempat terdekat dan tak harus datang ke kantor FWD. Misalnya, bisa janjian di Excelso terdekat, sebagai kafe yang bekerja sama dengan FWD. Konsultasi bisa melalui WhatsApp atau telepon dan untuk klaim pun bisa semudah mengirimkan foto dan dokumen via WhatsApp.” Tambah Rudi.

FWD Life menggandeng Founder Institute dalam pengembangan asuransi berbasis digital ini.

Poppy Savitri (Bekraf)

Poppy Savitri, Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif dari Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) pun mendukung penuh langkah FWD Life dalam upaya mengenalkan asuransi kepada masyarakat dan generasi muda melalui Kompetisi Hackathon 2017 sebagai ajang eksplorasi karya anak muda dalam dunia start up dan selebihnya edukasi tentang asuransi tentunya.

Poppy juga mengungkapkan bahwa adaptasi diperlukan dalam pengembangan asuransi di setiap era nya. Misalnya, saat ini masyarakat sudah mobile dan remote cara konvensional sebaiknya dikolaborasikan dengan cara digital. Maka menurutnya, FWD menyelenggarakan Hackathon 2017 sebagai perusahaan yang telah memiliki jaringan usaha di Hongkong&Macau, Thailand, Filipina, Singapura, Vietnam dan Jepang ini adalah langkah awal yang tepat.

Andy Zain

Andy Zain, Direktur Founder Institute, menyambut kerjasama FWD Life dengan sangat terbuka dan mendukung sepenuhnya.

“Ini adalah kali pertama Founder Institute bekerjasama dengan perusahaan asuransi, tentu banyak sekali tantangan dan inovasi yang harus digali.” 

Andy juga memberikan wawasan soal dunia start up yang selama ini banyak tidak bertahan karena kurangnya strategi. Start Up banyak bermunculan tetapi hanya sedikit yang bertahan.

Founder Institute berdiri sejak enam tahun lalu dan melahirkan banyak entrepreneur berbasis teknologi dan rata-rata berhasil. Kali ini, Andy Zain berbagi kiat sukses start up menurutnya, untuk menjalankan usaha ini, perlu poin-poin berikut ini:

Pengembangan ide, Sebaiknya ide yang ditemukan didiskusikan dulu dengan tim dan diverifikasi agar lebih rasional dan total. Tidak semua ide ketika ditemukan langsung bisa dieksekusi.

Team Work, Tim yang solid dan saling mengisi akan menghasilkan eksekusi ide yang sempurna dan tidak tersendat oleh kekurangan jalan pikiran. Maka sebelum memulai sebuah start up sebaiknya bentuk dulu tim yang kompak.

Produk dan Pemasaran, Dalam hal ini, produk dan pemasaran sangat penting, mengingat kebertahanan sebuah start up adalah dari sini. Ciptakan produk yang banyak dibutuhkan masyarakat dan banyak dicari. Sasar pasaran yang tepat dan lakukan selalu evaluasi.

Perluas Jaringan, Networking yang luas sangat berpengaruh karena satu usaha memerlukan banyak dukungan dari berbagai arah dan berbagai kelompok atau institusi. Jika networking luas pengaruh juga pada keberlangsungan operasional dan pemasaran sebuah start up.

Pendanaan / Funding, Dana sangat penting dan untuk hal ini solusinya bisa mencari investor yang relevan dengan usaha yang dirintis.

“Founder Institute ketika mendidik para calon start up tidak hanya mengandalkan teori dan praktek saja tapi ditekankan juga untuk belajar bersama dan menggali ide sama-sama serta verifikasi setiap ide yang keluar. Selain itu, Founder Institute juga memberikan peluang untuk networking dengan jaringan yang dimiliki oleh Founder Institute.” Kata Andy.

Andy mengajak generasi muda untuk berpartisipasi dalam ajang FWD Hackathon 2017 ini untuk menggali ide dan sama-sama berupaya mengubah cara pandang anak muda terhadap asuransi ke arah yang lebih positif.


Lomba ini sudah dibuka pendaftarannya mulai 4 Agustus 2017 bagi yang ingin mendaftar bisa membuka Microsite FWD dan acara puncaknya dilaksanakan 22-24 September 2017. Sebelum acara puncak ini, diselenggarakan juga roadshow ke Jakarta, Surabaya dan Bandung.

Hadiahnya adalah Rp.100 Juta Rupiah plus kunjungan ke Silicon Valley.

“Hadiah kali ini bukan hanya uang tunai, beasiswa dan kunjungan edukasi pun diberikan kepada para pemenang sebagai tunjangan hingga keberhasilannya mendirikan start up yang survive.” Pungkas Rudi Kamdani.


Saya sendiri salut dengan gebrakan FWD Hackathon 2017 yang diniatkan bukan sekadar kegiatan lomba dan memberikan hadiah setelah itu selesai. Tapi memberi bimbingan dan pendampingan hingga berhasil. Ayo bagi yang berminat segera daftarkan di FWD Hackathon 2017 ya.
Continue Reading...

Thursday, 3 August 2017

Penuhi Hak Si Kecil Melalui Dukungan Terhadap Ibu Hamil dan Menyusui Bersama Anmum

Kesempatan berharga untuk saya bisa mengikuti #CelebrateTheExtraordinary bertepatan dengan peringatan “Pekan Asi Sedunia” pada 1 Agustus 2017 di Hotel Raffles bersama Fonterra dan Anmun. Dalam acara ini, padat ilmu bermanfaat tentang dukungan terhadap ibu hamil dan menyusui.

Mengingat kenyataan sekarang di lingkungan saya pribadi pun begitu banyak ibu hamil dan menyusui kurang pengetahuan tentang apa yang patut dilakukan pada periode emas bagi buah hatinya. Kondisi psikologis dan fisik yang berubah meyoritas membuat mereka cenderung emosional, tergantung dan putus asa. Itu yang saya lihat dari lingkungan terdekat saya, baik saudara maupun tetangga.
Continue Reading...

Blogroll

About