Kenangan yang Tak Pernah Usai dari Kue Pastel



Setiap malam di dapur rumah kami yang berlantai semen, ada sebuah meja makan dari kayu jati dengan empat kursi yang mengelilinginya. Namun di samping meja itu masih ada ruang cukup luas. Di sanalah Nenek, dua orang Tante, adik saya, dan saya berkumpul setiap malam selepas maghrib. Kami tidak sekadar bercengkerama, tetapi juga membantu Nenek membuat kue pastel yang akan dijual di pasar setiap subuh dan dititipkan di beberapa warung pada pagi harinya.

Suasananya selalu terasa hangat. Sambil menunggu Nenek selesai menguleni adonan dan menyiapkan isian pastel, saya dan adik biasanya duduk di meja makan untuk belajar. Jika ada pekerjaan rumah dari sekolah, kami selesaikan lebih dulu. Setelah itu, barulah kami diizinkan membantu di dapur.

Tugas saya dan adik adalah memipihkan bulatan adonan. Alatnya sederhana saja: botol bekas sirup yang dijadikan pengganti rolling pin. Hampir setiap malam kami melakukannya, sampai akhirnya tangan kami terbiasa dan terampil. Tidak boleh terlalu tipis, tapi juga tidak boleh terlalu tebal. Nenek selalu mengingatkan, kalau terlalu tebal pastel tidak akan matang merata, sementara kalau terlalu tipis adonannya mudah sobek saat digoreng karena menahan berat isiannya.

Lembar demi lembar adonan yang sudah dipipihkan kami susun di dalam tampah besar. Saya dan adik sering menjadikannya semacam perlombaan kecil, siapa yang bisa membuat paling banyak maka dialah pemenangnya. Sementara itu, dua orang Tante bertugas mencetak, mengisi, dan menutup adonan hingga menjadi kue pastel yang siap digoreng.

Pastel-pastel yang sudah terbentuk kemudian dibiarkan di dalam tampah besar dan ditutup plastik lebar agar sedikit mengembang. Nanti pada pukul satu dini hari, pastel-pastel itu mulai digoreng. Sekitar pukul dua pagi, Nenek sudah bersiap mengantarkannya ke pasar.

Tugas saya dan adik belum selesai. Pagi harinya, kami mengirimkan pastel ke beberapa warung sebelum berangkat sekolah. Sore hari, sekitar pukul lima, kami kembali ke warung-warung itu untuk mengambil uang hasil penjualannya. Jika pastel habis terjual, kami bersorak gembira. Tetapi kalau masih ada sisa, rasanya sedih juga.

Dari situlah, tanpa kami sadari, saya dan adik belajar berkomunikasi dengan para ibu pemilik warung. Bayangkan saja, saat itu saya masih kelas 4 SD dan adik saya kelas 2 SD, tetapi kami sudah terbiasa berdiskusi dengan orang-orang yang jauh lebih tua. Jika pastel tidak habis, kami mencoba mencari penyebabnya bersama mereka.

“Ah, mungkin karena hujan ya, Bu?”
“Atau mungkin pembeli ingin variasi isian lain selain sayur?”

Hasil percakapan itu kemudian kami sampaikan kepada Nenek. Nenek pun biasanya akan mengonfirmasi kembali kepada ibu warung sebelum memutuskan apakah perlu membuat perubahan pada dagangannya.

Nenek memang hanya mengandalkan uang pensiun peninggalan Kakek yang jumlahnya tidak seberapa. Karena itu, hampir setiap hari beliau berusaha mencari tambahan dengan membuat berbagai camilan untuk dijual. Selain pastel, Nenek juga membuat ketan uli, cireng isi sambal kacang, bahkan menerima pesanan bordir strimin dari tetangga atau teman-teman lama Kakek. Kreativitasnya seperti tidak ada habisnya.

Itulah sebabnya sampai hari ini, setiap kali saya melihat kue pastel, hati saya selalu dipenuhi berbagai emosi yang bercampur. Di balik bentuknya yang sederhana, ada begitu banyak kenangan yang menempel: tentang perjuangan, kerja keras, kegigihan, dan keteguhan hati seorang Nenek yang berusaha menjaga dapur tetap menyala.

Bagi saya, kue pastel bukan sekadar makanan ringan. Ia adalah simbol kasih sayang yang dibungkus oleh perjuangan untuk bertahan hidup. Dari dapur kecil itu, saya dan adik belajar banyak hal yang tidak pernah diajarkan di bangku sekolah maupun kuliah. Kami belajar keberanian berbicara dengan orang lain, belajar menerima kenyataan ketika dagangan tidak selalu habis, bahkan kalau dipikir sekarang, kami beruntung sudah belajar sedikit tentang pemasaran sejak masih sangat kecil kan?

Pengalaman itu juga membentuk kami menjadi anak-anak yang cukup mandiri dan punya naluri usaha. Kami pernah membawa majalah Bobo dan berbagai komik ke sekolah untuk disewakan kepada teman-teman. Di rumah, kami bahkan membuka “perpustakaan kecil” di teras dan menyewakan majalah serta komik yang kami miliki. Waktu itu, di era 80–90-an ketika belum ada gadget dan internet, minat baca anak-anak memang masih sangat tinggi.

Kini, ketika saya mengenang masa-masa itu, saya menyadari bahwa dapur sederhana dengan lantai semen itu sebenarnya adalah “sekolah kehidupan” pertama bagi saya dan adik. Di sana kami belajar tentang kerja keras, tanggung jawab, keberanian, dan terutama tentang cinta keluarga yang diwujudkan melalui usaha tanpa kenal lelah.

Kue pastel mungkin hanya camilan bagi banyak orang. Namun bagi saya, setiap lipatan di pinggirnya menyimpan cerita tentang tangan-tangan yang bekerja dengan penuh kasih, tentang malam-malam panjang yang dilalui bersama, dan tentang seorang Nenek yang diam-diam mengajarkan kami arti bertahan hidup dengan bermartabat.


12 comments

  1. Waaah ternyata waktu kecil ada kenangan tentang makanan perjuangan ya teh..., jadi inget waktu kelas 1 SMP, persis teh, cuma kalo saya mah ibu yang bikin kremes (Grubi/ sarang mas), saya yang bertugas nitipin di warung, dikemas dalam keler/ toples kaca. nanti sore diambil, sambil ambil uang dari yang terjual. Kalo inget kadang sedih, tapi juga sekaligus ada nilai perjuangan hingga bisa nyampe ke sini, bisa sekolah salah satunya wasilahnya kue kremes itu.

    ReplyDelete
  2. Hiks jadi inget moment yang benar benar hangat, dari kecil kita ternyata sudah diajarkan kerjasama dengan tim ya, sekarang baru terasa bermanfaat sekali. Al fatihah buat Opung.

    ReplyDelete
  3. Cerita teh ANi mengingatkan saya pada gorengan bala-bala yang saya bawa setiap pagi ke sekolah untuk dititipkan di kantin sekolah. Ibu saya guru di sekolah tempat saya belajar, beliau masih sempat membuat bala-bala untuk dijual di kantin sekolah. Dan saya mendapatkan tugas untuk membawa ke kantin pagi-pagi jam enam saya sudah berangkat karena kantin bukanya setengah tujuh. Jadi mengejar sebelum buka saya sudah memberikannya ke ibu kantin untuk dijajakan pagi-pagi. Sebuah kenangan manis.

    ReplyDelete
  4. Kue pastel juga salah satu favorit keluargaku, Teh. Dulu ada tanteku (almarhumah) yang jago bgt bikin pastel. Begitu mateng, langsung ludes direbutin ponakan-ponakannya, termasuk aku.
    Dan kalau Lebaran, sajian di beberapa rumah adalah pastel kari, yang udah pasti jadi rebutan kami.

    ReplyDelete
  5. Bikin saya nostalgia saat membaca postingan ini. Mamah saya dulu suka bikin pastel. Saya paling seneng bagian pelintirin pinggirannya. Bangga deh kalau cakep gitu hasilnya. Kangen deh sama masa kecil.

    ReplyDelete
  6. Bukan sekadar kisah berkesan terkait kue pastel, tetapi mengingatkan kenangan manis dan menghangatkan hati antara Teteh, adik, Nenek, dan dua orang Tante.

    Tergambar jelas sekali berapa seru saat membuat lomba bareng adik. Bikin geregetan dan ikut senyum bayanginnya. Akan selalu ada makanan berkesan, karena memori nya melekat hangat dalam hati dan ingatan ya Teh.

    ReplyDelete
  7. Ibuku juga dari aku kecil jualan kue, teh. Lucunya dulu tu aku kayak nggak mau banget belajar bikin kue karena merasakan sendiri capeknya begadang bantuin ibu bikin kue. Tapi sekarang setelah punya anak malah suka nyobain resep kue dan mulai kepikiran mau jualan kue juga jadinya. Hihi

    ReplyDelete
  8. Masya Allah pastinya bakal selalu teringat momen istimewa dengan kue pastel. Aku bayanginnya kerja sama keluarga, kegigihan, menggiling adonan kulit sambil ngobrol itu juga membangun kedekatan, trus anak SD kepikiran buat riset kepuasan pelanggan. Hal-hal positif itu yang melekat hingga kini. Pengalaman hidup yang keren!

    ReplyDelete
  9. masyaalah, hanya dari "hal remeh" seperti kue pastel, makna dan artinya besar bnaget ya teh. Lebih dari kue, tapi sekolah pertama dan ada banyak momen indah bersama nenek. harunya kenangan itu nyampe ke saya teh, saya jadi inget kedua nenek saya juga di Cianjur dan Bandung.

    Nuhun teh, tulisan sederhana dan "singkat" tapi padat makna :)

    ReplyDelete
  10. Dari kue pastel menginspirasi akan kisah hidup Teh Ani. Kenangan yang menguatkan kala menjalani hidup saat ini ya Teh. Sehat-sehat selalu untuk Teh Ani dan keluarga ❤

    ReplyDelete
  11. Tulisan tentang makanan yang dibalut kenangan tuh selalu punya tempat tersendiri. Dari kue pastel yang penuh kenangan ini, bukan sekadar camilan tapi ada cerita, ada rasa, ada memori. Hangat banget bacanya, kayak lagi diajak nostalgia bareng.

    ReplyDelete
  12. Suka banget dengan pastel, apalagi yang kulitnya tipis, renyah dan isinya full, ada sayuran juga telornya.

    ReplyDelete