![]() |
| WSAM Edisi Batch 46 |
Awal menemukan WSAM (Workshop Anger Management)
Awal tahun 2020, langkah saya dibimbing semesta untuk hadir di workshop Anger Management bersama Dandiah Care. Saat itu, saya tidak memiliki bayangan bagaimana prosesnya, dalam bayangan saya hanya sebuah workshop kesehatan mental pada umumnya. Namun bayangan itu terpatahkan seketika, saat saya menyimak semua paparan yang disampaikan oleh Dandi Birdy, S.Psi dan Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog.
Rangkaian kalimat yang dipaparkan dengan mengelaborasi metodologi psikologi, pengalaman, isu di lapangan, hingga praktik anger management, membuat saya takjub! Baru di tempat workshopnya saja, saya langsung merasakan efek energi positif yang ditransfer oleh kedua pembicara tersebut. Apalagi setelah ditumpahkan dalam sesi praktik. Teh Diah membantu proses asesmen dan afirmasi diri seluruh peserta. Tanpa harus menunggu sampai rumah, langkah saya mulai enteng, pikiran mulai lapang, semua hal yang selama ini saya pikirkan, satu per satu diurai, dinilai, mulai terlihat jelas bahwa ada beberapa hal yang tidak penting ada teater of mind saya, mulai tereliminasi satu per satu.
Cerita lengkapnya ada di artikel Anger Management di Hotel Yello Harmoni
Proses Menelaah
Dalam rentang waktu empat bulanan, saya perlahan membangun fondasi diri melalui ruang yang telah dibersihkan melalui anger management bersama Dandiah care, saya mulai terpacu kembali kreativitasnya. Kuliah lagi hingga jenjang Magister Ilmu Komunikasi, maintain komunitas dan usaha pribadi di bidang media yang saat itu cenderung jalan di tempat, hingga membuat kondisi keuangan stabil dan alhamdulillah dapat mengantarkan anak semata wayang ke jenjang perguruan tinggi, dan kini sedang tahap semester akhir pendidikan profesi dokter hewan.
Kunci Keberhasilan Mengikuti WSAM
Kunci dari mengikuti workshop bersama psikolog adalah selain menyimak paparannya, kita pun wajib memproses semua yang diajarkan setelah workshop, menelaah dan memetakan apa yang akan dilakukan setelah mengikuti workshop tersebut, misalnya, membuat perencanaan hidup selanjutnya, menata kembali yang perlu dibereskan, menyelesaikan satu per satu permasalahan, hingga berbagi.
![]() |
| Saya mengalami fase ini sejak mengikuti sesi workshop pertama |
Belajar tanpa henti, Ikut kembali WSAM Batch 46 dalam kondisi tenang
Tepat di Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026, di Ritz Carlton Mega Kuningan Jakarta, saya kembali mengikuti Workshop Anger Management bersama Dandiah Care. Saya bertemu kembali dengan Psikolog Diah Mahmudah dan Dandi Birdy. Kedatangan saya kali ini, dalam kondisi yang berbeda dengan di tahun 2020. Kali ini sudah jauh lebih tenang dan stabil. Pikiran saya lebih realistis dan lega.
Lalu, untuk apa saya ikut kembali WSAM? Tentunya untuk meningkatkan kualitas diri yang terus bertumbuh lebih baik lagi. Jika dulu, kondisi mental saya terasa sesak karena terlalu banyak memikirkan hal tidak penting dan menimbun sampah emosi dalam diri, kali ini saya ingin memperbaiki semua faktor yang kurang baik dalam memengaruhi kehidupan saya. Yaitu, mengubah diri sendiri!
“Hidup yang tidak ditelaah tidak layak untuk dijalani!” – Socrates
Menurut Socrates, diri pun perlu ditelaah agar bisa mengenal diri sendiri lebih baik lagi. Ini yang menghubungkan benang merah mengapa saya harus ikut WSAM.
Memang ada apa dengan diri saya?
Semakin dewasa usia, semakin banyak evaluasi dan introspeksi diri. Sumber kemarahan bukan lagi dari orang lain, melainkan dari diri sendiri, sesederhana saat memutuskan sesuatu, bersikap terhadap orang lain, saat mengelola hidup yang kurang tepat, dan masih banyak lagi. Tujuannya, supaya saya merasa lebih otentik dengan diri saya sendiri dengan perbuatan dan keputusan yang benar dan tepat, juga bisa self mastered.
Suasana syahdu bersama 10 peserta lainnya yang tentunya hadir di acara ini dengan tujuan yang beragam, terasa personal dan eksklusif di sebuah ruangan meeting hotel berbintang, di luar jendela terlihat gerimis menambah nyaman suasana workshop.
Dalam Lensa Anger Management saya bisa mengalirkan kemarahan pada diri saya sendiri, saat saya ingin mengendalikan diri dari ekspektasi terlalu tinggi terhadap diri ini.
![]() |
| Ibu Diah & Pak Dandi sedang pemaparan materi |
Berikut paparan dari Ibu Diah dan Pak Dandi
Saya sangat tertarik dengan paparan Pak Dandi soal Amygdala Hijacking (Goleman, 1995) yang menggambarkan kondisi seseorang dengan kadar emosi berlebihan yang mengakibatkan akal sehatnya tertutup. Pak Dandi mencontohkan pada kondisi seseorang yang tidak hanya sedang sedih namun juga saat gembira yang berlebihan. Dalam kedua kondisi tersebut, disarankan kita tidak memutuskan sesuatu terburu-buru. Tunggu sampai emosi menurun dan stabil.
Berikut 4 kelompok yang rawan mengalami Amygdala Hijacking
1. Memilih Tema Unfinished Business: Memiliki tema Maladaptive Inner Child yang belum dibasuh juga PTSD
2. Burnout (Kelelahan fisik & psikis): Memiliki tekanan, kehilangan, atau perubahan, misalnya kondisi kelelahan, mengalami bencana alam, sakit kronis, berduka, perceraian, hingga sakit fisik.
3. BLAST (Boring, Lonely, Angry, Stress, Tired): Kondisi saat jatuh cinta, mengalami patah hati, kegagalan
4. Adiksi: Gadget, alkohol, judi, narkoba.
Mengapa orang bisa marah?
Marah dalam perspektif psikologi, bersumber dari dua kondisi, yaitu marah primer yang dipicu oleh stimulus ketidakadilan berupa penzaliman dan penganiayaan, lalu marah sekunder yang pemicunya adalah frustasi, biasanya berupa hambatan terhadap sesuatu yang ingin dicapai. Bahkan menurut Ibu Diah, kemarahan juga dapat dipicu karena kumpulan emosi yang dipicu dari rasa cemburu, insecure, dan emosi destruktif lainnya.
Marah dalam perspektif Islam, marah adalah pintu masuk setan ke dalam jiwa manusia dan setan mempermainkan orang yang sedang marah seperti anak-anak yang sedang memainkan bola. Marah juga sumber tempat bergejolaknya hati manusia yang menimbulkan bara serta nafsu.
Menariknya, Pak Dandi dan Ibu Diah memaparkan bahwa pada saat kita masih merasakan stress, artinya jiwa masih sehat dibanding kondisi diri yang flat, kondisi stress akan memicu kita untuk melakukan tindakan atau memikirkan solusi. Artinya, proses berpikir masih jalan.
Hal-hal yang patut dipahami dalam Anger Management - 4C yang perlu dikuasai:
Cerdas menggali trigger sangat penting, agar dapat mengontrol tindakan saat kondisi diliputi oleh berbagai pemicu kemarahan.
Trigger internal yang sering ditemui misalnya saat kurang tidur, lapar, lelah, dan yang kerap terjadi pada perempuan misalnya PMS dan baby blues.
Trigger eksternal bida berupa perlakuan tidak adil, penghinaan, harga diri yang terusik, target kerja berlebihan.
Cerdas mengenali reaksi tubuh, suhu tubuh, debaran jantung, pernafasan, otot rahang menegang, dan sensasi tubuh yang lain.
Cerdas mengenali jenis emosi dan kebutuhan di balik marah, saat sedih, takut, ingin diperhatikan, ingin didengar, atau sekadar ingin ditemani.
Cerdas melatih ekspresi marah, fokus kepada hal-hal yang ada dalam kendali kita dan fokus melatih P-E-M-M-S (Pausing and Pending), Empathizing, Mirroring, Motivating, Self Healing Therapy)
Bagaimana mengelola kemarahan dalam Anger management?
Menurut Pak Dandi dan Ibu Diah, kemarahan dapat dikelola dengan melakukan tahap-tahap seperti melakukan pemaafan, menuntaskan luka di masa lalu, memulihkan trauma di masa lalu, dan membuang semua ransel emosi yang masih tersimpan. Kemarahan harus dialirkan, bukan diredam, dipendam, dialihkan, atau dilupakan. Karena jika tidak dialirkan, potensi emosi tersebut akan selalu muncul kembali walau sudah berusaha dialihkan atau diredam.
![]() |
| Sumber: Materi Workshop Anger Management Dandiah Care |
Cara mengalirkan emosi bisa dilakukan sendiri di rumah juga bisa meminta bantuan profesional psikolog. Lakukan relaksasi dan psikoterapi. Teknik ini bisa dilakukan secara preventif dan kuratif.
![]() |
| Bersama Ibu Diah & Pak Dandi |
Anger management tujuannya adalah supaya mampu mengekspresikan marah dengan cara yang sehat, bukan merusak, baik ke diri atau lingkungan.
Buat Teman-teman yang ingin mengalirkan emosi dan memulihkan trauma, boleh kontak Dandiah Care Center melalui informasi lengkap dalam melalui Linktree.





Baca ini pelan-pelan dan satu persatu karena semua isinya penting. Lalu langsung nyoba nerapin butterfly hug, ternyata nyaman banget yaa...
ReplyDeleteThanks Teh Ani buat tulisannya
Ini sih daging semua isinya, dari pengalaman personal mengikuti sesi workshop anger management, sampai ke sesi paparan. Buat yang punya rutinitas yang mengarah pada burnout rekomendasi banget ya Teh ikut sesi ini.
ReplyDeleteBtw, setuju banget ni teh, kadang kita suka mikirin hal-hal remeh yang akhirnya membebani secara mental, apalagi jadi overthinking. Bahaya banget ya buat kondisi mental kita teh.
Mengikuti workshop Anger Management bersama Dandiah care beneran kasih banyak impact positif banget ya Teh. Yang pertama, beneran basic membersihkan diri dan ruang. Sehingga lebih lapang dan enjoy.
ReplyDeletePertemuan kedua di tahun 2026, workshop Anger Management lebih meluas lagi, membuat diri teh Ani semakin bertumbuh dalam management pengelolaan emosi. Keren sekali, kemarahan itu ada dalam lingkup psikologi dan dalam pandangan Islam. Terima kasih sudah berbagi artikel bermanfaat dan mengingatkan pentingnya mengelola emosi secara tepat dan tidak merusak diri serta sekitar.
Setuju banget dengan poin bahwa kemarahan itu harus dialirkan dengan cara yang sehat, bukan dipendam atau diredam, karena kalau dipendam sewaktu-waktu bisa jadi bom waktu. Lebih ngeri efeknya kalau 'bom waktu' ini meledak. Saya juga berusaha untuk tidak mengambil keputusan di saat emosi sedang tinggi, baik itu marah atau gembira. Baru tau nih saya kalau istilahnya adalah Amygdala Hijacking.
ReplyDeleteEmosi yang dikelola bukan cuma berguna untuk diri sendiri tapi juga untuk orang-orang di sekeliling kita, ya.
ReplyDeleteMarah itu manusiawi, tapi harus dimenej dengan baik supaya tidak berlebihan dan dikelola supaya Kita bisa berfungsi dengan seutuhnya. Bagus sekali ada pelatihan seperti ini jadi kita bisa memaksimalkan pengelolaan perasan dengan baik dan benar
ReplyDeleteAnger management sangat penting banget ya teh, soalnya terbayang aja sih kalau ternyata emosi marah ini jika sampai tak terkendali. Bisa jadi dampak yang ditimbulkan bukan hanya merugikan diri sendiri tapi juga bahkan bisa merugikan orang lain. Enggak baik juga kan buat kehidupan di masa depan terutama terkait dengan kesehatan mental diri. Lingkungan sekitar pun mungkin akan memberi pandangan negatif kepada kita jika tak bisa mengontrol emosi.
ReplyDeleteManajemen emosi ini memang bisa berpengaruh ke semua aspek kehidupan kita ya, Teh. Dan marah itu juga hal yang dihindari dalam agama Islam karena saat kita marah itu setan bisa masuk ke dalam pikiran yang membuat kita kadang tidak. Bisa mengontrol diri
ReplyDeleteMarah itu manusiawi, tapi belajar mengelolanya itu bentuk sayang ke diri sendiri dan orang sekitar. Suka banget sama pesan di artikel ini, karena bertumbuh ternyata bukan soal jadi sempurna, tapi jadi lebih sadar. Thanks sharingnya teh.
ReplyDeleteManajemen emosi tuh emang penting banget pengelolaannya biar bisa tetap menjalani hidup dengan baik. Dulu anger managementku tuh di latihan beladiri. Rasanya lega setiap kali habis latihan, apalagi kalau habis sparring atau tanding.
ReplyDeleteSekarang aku suka berenang dan motoran keliling kota, lumayan banget membantu manajemen emosiku kalau lagi burnout dengan pekerjaan.
Keren banget workshop-nya, bagus nih buat me-manage diri agar nggak selalu marah dalam merespon sesuatu yang tidak sesuai dengan diri kita.
ReplyDeleteArtikelnya keren dan menginspirasi banget, Teh! Senang membaca pengalaman bertumbuh melalui Anger Management Workshop. Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik untuk kehidupan sehari-hari. Terima kasih sudah berbagi cerita yang bermanfaat.
ReplyDeleteDari dulu saya ingin ikut session ini bareng Dandiah care, tapi belum rezeki dan berjodoh, hiks. Tapi baca reviewnya Teh Ani, sedikin banyak terbayang meski, kuraaaang, hehehe. Saya melihat, kita semua berproses ya teh, baik teteh di tahun 2020 dan sekarang, dan saya percaya kita semua juga. Bukan perjalanan yang mudah tapi jika masih bertahan dan outputnya bukan sekadar bertahan tapi "upgrade diri", udah jadi prestasi luar biasa.
ReplyDeleteYang paling terasa mungkin soal mengenal diri, termasuk jenis emosi dan mengelola amarah. Pasti bakalan terasa perbedaannya, dan saya lihat di Dandiah care ini sedikit banyak bantu kita menelaah diri lebih dalam, diarahkan, gak bingung lagi harus gimana dan ngapain. Karena, self regulation tanpa arahan tuh bikin babak belur teh, dan prosesnya gak stabil, ya diri bilang," aku aku udah gak marah, aku nerima"...tapi nyatanya, aku masih kesel-kecewa-marah-aku nerima-oke aku ikhlasin-tapi aku masih kesel-oke aku baik-baik aja-aku masih marah iiih-oke aku terima.....terus begitu sampai di titik, oke, aku udah gak marah lagi dan gak berdampak sama kehidupan sehari-hari apalagi fisik.